Kasidan Jati

Kasidan Jati
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Yoh. 14:2-3

Kamis, 22 September 2011

Andereas Samudera 4 - 安德烈亚斯萨穆德拉 - 安德烈亞斯薩穆德拉 - Ān dé liè yà sī sà mù dé lā

Andereas Samudera 4 - 安德烈亚斯萨穆德拉 - 安德烈亞斯薩穆德拉 - Ān dé liè yà sī sà mù dé lā



Serangan terhadap ajaran Andereas Samudera


1)  Pembahasan tentang ‘dunia orang mati’ (SHEOL / HADES dan Firdaus) dan ‘intermediate state’ (= keadaan di antara kematian dan kebangkitan).

a)   Pembahasan tentang kata SHEOL / HADES.
SHEOL adalah suatu kata bahasa Ibrani, dan HADES adalah kata bahasa Yunani yang artinya sama dengan SHEOL. Dalam Kitab Suci Indonesia pada umumnya diterjemahkan ‘dunia orang mati’ (Kej 37:35  Maz 6:6b), tetapi kadang-kadang diterjemahkan ‘alam maut’ (Mat 16:18  Luk 16:23), atau ‘kerajaan maut’ (Wah 1:18  6:8  20:13,14).
Louis Berkhof: “During the nineteenth century several theologians, especially in England, Switzerland, and Germany, embraced the idea that the intermediate state is a state of further probation for those who have not accepted Christ in this life. This view is maintained by some up to the present time and is a favourite tenet of the Universalists” [= Dalam abad ke 19 beberapa ahli theologia, khususnya di Inggris, Swiss, dan Jerman, mempercayai gagasan bahwa intermediate state (masa / keadaan antara kematian dan kebangkitan) merupakan suatu masa percobaan lebih lanjut untuk mereka yang belum menerima Kristus dalam hidup ini. Pandangan ini dipertahankan oleh sebagian orang sampai saat ini dan merupakan suatu ajaran / pendapat favorit dari para penganut Universalisme] - ‘Systematic Theology’, hal 681.
Pada jaman modern, maka pandangan yang umum tentang ‘intermediate state’ adalah bahwa Sheol / Hades merupakan tempat netral kemana semua orang, beriman atau tidak beriman, baik atau jahat, akan pergi. Tempat itu bukan tempat dimana ada pahala ataupun penghukuman, dan tempat itu tidak terbagi menjadi dua (satu untuk yang baik satu untuk yang jahat), tetapi merupakan suatu kesatuan tanpa pembedaan moral (Berkhof hal 681).
Tentang pandangan modern ini Louis Berkhof berkomentar: “it plainly contradicts the Scriptural representation that the righteous at once enter glory and the wicked at once descend into the place of eternal punishment” (= ini secara jelas bertentangan dengan gambaran Kitab Suci bahwa orang benar segera / langsung memasuki kemuliaan dan orang jahat segera / langsung turun ke tempat penghukuman kekal) - ‘Systematic Theology’, hal 682.
Dan ada beberapa hal, yang bertentangan dengan pandangan umum ini, yang harus dipertimbangkan:
1.   Orang percaya yang mati digambarkan bahagia.
Louis Berkhof: “If a descent into SHEOL was the gloomy outlook upon the future, not only of the wicked but also of the righteous, how can we explain the expressions of gladsome expectation, or joy in the face of death, such as we find in Num. 23:10; Ps. 16:9,11; 17:15; 49:15; 73:24,26; Isa. 25:8 (comp. 1Cor. 15:54)?” [= Jika turun ke SHEOL merupakan pemandangan yang suram terhadap masa depan, bukan hanya bagi orang jahat tetapi juga bagi orang benar, bagaimana kita bisa menjelaskan ungkapan-ungkapan tentang pengharapan yang gembira, atau sukacita dalam menghadapi kematian, seperti yang kita dapatkan dalam Bil 23:10; Maz 16:9,11; 17:15; 49:16; 73:24,26; Yes 25:8 (bdk. 1Kor 15:54)?] - ‘Systematic Theology’, hal 683.
Catatan: menurut saya tidak semua ayat-ayat yang disebutkan Berkhof ini cocok.
Louis Berkhof: “Even the Old Testament testifies to it that they who die in the Lord enter upon a fuller enjoyment of the blessings of salvation, and therefore do not descend into any underworld in the literal sense of the word, Num. 23:5,10; Ps. 16:11; 17:15; 73:24; Prov. 14:32. Enoch and Elijah were taken up, and did not descend into an underworld” (= Bahkan Perjanjian Lama menyaksikan bahwa mereka yang mati dalam Tuhan masuk ke dalam penikmatan yang lebih penuh dari berkat-berkat keselamatan, dan karena itu tidak turun ke dalam dunia orang mati manapun dalam arti hurufiah dari kata itu, Bil 23:5,10; Maz 16:11; 17:15; 73:24; Amsal 14:32. Henokh dan Elia diangkat, dan tidak turun ke dalam dunia orang mati) - ‘Systematic Theology’, hal 685-686.
Catatan:
·        sebetulnya Bil 23:5 tidak ada hubungannya dengan dunia orang mati, dan mungkin Louis Berkhof mengutipnya hanya dalam hubungannya dengan Bil 23:10, untuk menunjukkan bahwa kata-kata dalam Bil 23:10 bukanlah kata-kata Bileam sendiri, tetapi kata-kata Tuhan.
·        Amsal 14:32 - “Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya, tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya”.
KJV: ‘The wicked is driven away in his wickedness: but the righteous hath hope in his death’ (= Orang jahat diusir dalam kejahatannya: tetapi orang benar mempunyai pengharapan dalam kematiannya).
Pada footnote RSV dikatakan bahwa terjemahan seperti Kitab Suci Indonesia ini diterjemahkan dari Yunani / Syria, sedangkan yang seperti KJV dari Ibraninya.
Berkhof juga menunjuk pada ayat-ayat Perjanjian Baru seperti Luk 16:23,25  Luk 23:43  Kis 7:59  2Kor 5:1,6,8  Fil 1:21,23  1Tes 5:10  Ef 3:14,15 (‘di surga’ bukan ‘di hades’)  Wah 6:9,11  Wah 14:13.
Ayat-ayat Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tentang kebahagiaan orang percaya yang mati ini, tidak saya tuliskan di sini, karena nanti kita akan berjumpa lagi dengan pembahasan ayat-ayat ini dalam point c) yang membahas ‘keadaan setelah kematian’.
2.   Kata Sheol / Hades kelihatannya menunjuk pada ‘neraka’, karena:
a.   Kata Sheol / Hades sering digambarkan sebagai ancaman bagi orang jahat.
Louis Berkhof: “If in the Scriptural representation Sheol-Hades is really a neutral place, without moral distinction, without blessedness on the one hand, but also without positive pain on the other, a place to which all alike descend, how can the Old Testament hold up the descent of the wicked into SHEOL as a warning, as it does in several places, Job 21:13; Ps. 9:17; Prov. 5:5; 7:27; 9:18; 15:24; 23:14? How can the Bible speak of God’s anger burning there, Deut. 32:22, and how can it use the term SHEOL as synonymous with ABADDON, that, destruction, Job 26:6; Prov. 15:11; 27:20? This is a strong term, which is applied to the angel of the abyss in Rev. 9:11. Some seek escape from this difficulty by surrendering the neutral character of SHEOL and by assuming that it was conceived of as an underworld with two divisions, called in the New Testament paradise and gehenna, the former the destined abode of the righteous, and the latter that of the wicked; but this attempt can only result in disappointment, for the Old Testament contains no trace of such a division, though it does speak of SHEOL as a place of punishment for the wicked. Moreover, the New Testament clearly identifies paradise with heaven in 2Cor. 12:2,4. And finally, if HADES is the New Testament designation of SHEOL, and all alike go there, what becomes of the special doom of Capernaum, Matt. 11:23, and how can it be pictured as a place of torment, Luke 16:26? Someone might be inclined to say that the threatenings contained in some of the passages mentioned refer to a speedy descent into SHEOL, but there is no indication of this in the text whatsoever, except in Job 21:13, where this is explicitly stated” (= Jika dalam penggambaran Kitab Suci SHEOL - HADES betul-betul merupakan suatu tempat netral, tanpa perbedaan moral, tanpa kebahagiaan ataupun rasa sakit, suatu tempat kemana semua orang akan turun, maka bagaimana Perjanjian Lama bisa menunjukkan turunnya orang jahat ke dalam SHEOL sebagai suatu peringatan, seperti yang dilakukannya pada beberapa tempat, Ayub 21:13; Maz 9:18; Amsal 5:5; 7:27; 9:18; 15:24; 23:14? Bagaimana Alkitab bisa mengatakan bahwa murka Allah bernyala-nyala di sana, Ul 32:22, dan bagaimana Alkitab bisa menggunakan istilah SHEOL dengan arti yang sama dengan ABADDON, yaitu kehancuran / kebinasaan, Ayub 26:6; Amsal 15:11; 27:20? Ini merupakan istilah yang kuat / keras, yang diterapkan kepada malaikat dari jurang maut dalam Wah 9:11. Sebagian orang berusaha untuk meloloskan diri dari kesukaran ini dengan membuang sifat netral dari SHEOL dan dengan menganggap bahwa SHEOL merupakan suatu tempat dengan 2 bagian, disebut dalam Perjanjian Baru sebagai Firdaus dan Gehenna, yang pertama adalah tempat tinggal yang dipersiapkan untuk orang benar, dan yang terakhir untuk orang jahat; tetapi usaha ini hanya bisa menghasilkan kekecewaan, karena Perjanjian Lama tidak mempunyai jejak untuk pembagian seperti itu. Lebih lagi, Perjanjian Baru secara jelas menyamakan Firdaus dengan surga dalam 2Kor 12:2,4. Dan yang terakhir, jika HADES merupakan nama Perjanjian Baru dari SHEOL, dan semua secara sama akan pergi ke sana, apa yang terjadi dengan hukuman yang khusus bagi Kapernaum, Mat 11:23, dan bagaimana itu bisa digambarkan sebagai tempat penyiksaan, Luk 16:23? Ada yang akan mengatakan bahwa ancaman yang ada dalam beberapa text yang telah disebutkan menunjuk kepada cepatnya mereka turun ke SHEOL, tetapi sama sekali tidak ada petunjuk tentang ini dalam text, kecuali dalam Ayub 21:13, dimana hal ini dinyatakan secara explicit) - ‘Systematic Theology’, hal 683.
Catatan:
·        saya mengubah Rev. 19:11 (Wah 19:11) menjadi Rev. 9:11 (Wah 9:11), karena pasti salah cetak.
·        Terjemahan dari Ayub 21:13 berbeda-beda, dan tidak semua menunjukkan cepatnya orang-orang jahat turun ke SHEOL.
Ayub 21:13 - “Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemujuran, dan dengan tenang mereka turun ke dalam dunia orang mati”.
KJV: ‘They spend their days in wealth, and in a moment go down to the grave’ (= Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kekayaan, dan dalam sekejap turun ke kuburan).
NASB: ‘They spend their days in prosperity, And suddenly they go down to Sheol’ (= Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemakmuran, Dan tiba-tiba mereka turun ke SHEOL).
Catatan: terjemahan ini juga diambil oleh footnote NIV. Tetapi RSV dan NIV menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.
Berkhof lalu mengatakan (hal 684) bahwa hanya kalau kita menganggap bahwa kata SHEOL dalam ayat-ayat tersebut di atas menunjuk kepada neraka, maka barulah ayat-ayat di atas bisa mempunyai arti.
Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan Sheol / Hades sebagai ancaman antara lain adalah:
¨       Maz 9:18 - “Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati (SHEOL), ya, segala bangsa yang melupakan Allah”.
Kata ‘kembali’ kurang tepat terjemahannya. Seharusnya adalah ‘berbelok’.
¨       Maz 49:14-15 - “Inilah jalannya orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri, ajal orang-orang yang gemar akan perkataannya sendiri. Sela  Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati (SHEOL), digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati (SHEOL) menjadi tempat kediaman mereka”.
¨       Ul 32:22 - “Sebab api telah dinyalakan oleh murkaKu, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati (SHEOL) yang paling bawah; api itu memakan bumi dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung”.
¨       Ayub 26:6 - “Dunia orang mati (SHEOL) terbuka di hadapan Allah, tempat kebinasaanpun tidak ada tutupnya”.
Ini merupakan 2 kalimat paralel yang sama artinya, dan dengan demikian istilah ‘dunia orang mati’ (SHEOL) disamakan dengan ‘kebinasaan’ (ABADDON). Hal yang sama terjadi dengan Amsal 15:11 dan Amsal 27:20.
¨       Mat 11:23 - “Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati (HADES)! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini”.
Louis Berkhof: “The warning and threatening contained in these passages is lost altogether, if sheol is conceived of as a neutral place whither all go. From these passages it also follows that it cannot be regarded as a place with two divisions. The idea of such a divided SHEOL is borrowed from the Gentile conception of the underworld, and finds no support in Scripture” (= Peringatan dan ancaman yang ada dalam text-text ini hilang sama sekali, jika SHEOL dipahami sebagai suatu tempat netral kemana semua orang akan pergi. Dari text-text ini juga terlihat bahwa itu tidak bisa dianggap sebagai suatu tempat dengan 2 bagian. Gagasan tentang SHEOL yang terbagi seperti itu diambil dari konsep non Yahudi / kafir tentang dunia orang mati, dan tidak mempunyai dukungan dalam Kitab Suci) - ‘Systematic Theology’, hal 685.
b.   Jika kata SHEOL dalam Perjanjian Lama selalu berarti tempat netral kemana orang mati akan pergi, dan tidak mempunyai arti lain, maka Perjanjian Lama tidak mempunyai kata untuk ‘neraka’, padahal Perjanjian Lama mempunyai kata untuk ‘surga’ (Berkhof hal 683-684).
c.   Kata Sheol / Hades kadang-kadang dikontraskan dengan kata ‘langit’ / ‘surga’, seperti dalam:
·        Ayub 11:8 - “Tingginya seperti langit - apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati - apa yang dapat kauketahui?”.
·        Maz 139:8 - “Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau”.
·        Amos 9:2 - “Sekalipun mereka menembus sampai ke dunia orang mati, tanganKu akan mengambil mereka dari sana; sekalipun mereka naik ke langit, Aku akan menurunkan mereka dari sana”.
·        Mat 11:23 - “Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati (HADES)! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini”.
d.   Kitab Suci juga berkata tentang ‘the deepest or lowest SHEOL’ (= SHEOL yang terdalam atau terendah) dalam Ul 32:22 - “Sebab api telah dinyalakan oleh murkaKu, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati yang paling bawah; api itu memakan bumi dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung”. Ini tidak cocok dengan tempat netral tanpa perbedaan kemana semua orang akan pergi setelah kematian.
Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa pandangan umum tentang Sheol / Hades di atas merupakan pandangan yang salah. Dan dari ke 4 point di atas (point a. - d.) kelihatannya SHEOL / HADES menunjuk pada ‘neraka’. Tetapi Sheol / Hades tidak mungkin selalu menunjuk pada ‘neraka’, karena:
·        adanya ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang berimanpun masuk ke sana, seperti:
*        Kej 37:35 - “Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: ‘Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati (SHEOL)!’ Demikianlah Yusuf ditangisi oleh ayahnya”.
*        Kej 42:38 -  “Tetapi jawabnya: ‘Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati (SHEOL) karena dukacita.’”.
*        Kej 44:29,31 - “Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku, dan ia ditimpa kecelakaan, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati (SHEOL) karena nasib celaka. ... tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati (SHEOL) karena dukacita”.
*        Maz 30:4 - “TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati (SHEOL), Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur”.
·        adanya ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus tidak dibiarkan / ditinggalkan di sana.
Kis 2:27,31 - “sebab Engkau tidak menyerahkan [NIV/NASB: ‘abandon’ (= meninggalkan)] aku kepada dunia orang mati (HADES), dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan. ... Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati (HADES), dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan”.
Kalau ayat ini mengatakan bahwa Yesus tidak ditinggalkan di HADES, maka itu berarti bahwa Ia masuk ke HADES tetapi tidak dibiarkan di sana selama-lamanya. Padahal antara kematian dan kebangkitanNya Yesus tidak turun ke mana-mana, tetapi naik ke surga. Ini nanti akan saya tunjukkan pada point ke 2 (serangan ke 2 terhadap ajaran Andereas Samudera).
Jadi jelas bahwa kata HADES di sini tidak mungkin menunjuk pada ‘neraka’.
Usulan Louis Berkhof tentang arti dari kata Sheol / Hades.
Louis Berkhof: “An inductive study of the passages in which the terms are found soon dissipates the notion that the terms SHEOL and HADES are always used in the same sense, and can in all cases be rendered by the same word, whether it be underworld, state of death, grave, or hell. This is also clearly reflected in the various translations of the Bible. The Holland Version renders the term SHEOL by ‘grave’ in some passages, and by ‘hell’ in others. The King James or Authorized Version employs three different words in its translation, namely ‘grave’, ‘hell’, and ‘pit’. The English revisers rather inconsistently retained ‘grave’ or ‘pit’ in the text of the historical books, putting SHEOL in the margin. They retained ‘hell’ only in Isa. 14. The American Revisers avoid the difficulty by simply retaining the original words SHEOL and HADES in their translation” (= Tindakan mempelajari secara induktif text-text dimana istilah-istilah itu ditemukan akan segera membuang pemikiran bahwa istilah SHEOL dan HADES selalu digunakan dalam arti yang sama, dan dalam semua kasus bisa diterjemahkan dengan kata yang sama, apakah itu ‘dunia orang mati’, ‘keadaan kematian’, ‘kuburan’, atau ‘neraka’. Ini juga secara jelas dicerminkan dalam bermacam-macam terjemahan dari Alkitab. Versi bahasa Belanda menterjemahkan istilah SHEOL dengan ‘kuburan’ dalam beberapa text, dan menterjemahkannya dengan ‘neraka’ dalam text-text yang lain. KJV menggunakan 3 kata yang berbeda dalam penterjemahannya, yaitu ‘kuburan, ‘neraka’ dan ‘lubang / jurang’. Para perevisi Inggris secara agak tidak konsisten mempertahankan ‘kuburan’ atau ‘lubang / jurang’ dalam text-text dari kitab-kitab sejarah, dan menuliskan SHEOL di catatan tepi / samping. Mereka mempertahankan ‘neraka’ hanya dalam Yes 14. Para perevisi Amerika menghindarkan kesukaran dengan mempertahankan kata bahasa asli SHEOL dan HADES dalam terjemahan mereka) - ‘Systematic Theology’, hal 684-685.
Kesimpulan tentang Sheol / Hades:
1.   Sheol / Hades tidak selalu menunjuk pada suatu tempat, kadang-kadang menunjuk pada keadaan kematian atau keadaan terpisahnya tubuh dengan jiwa / roh.
Misalnya: 1Sam 2:6  Ayub 14:13-14  Ayub 17:13-14  Maz 89:49  Hos 13:14  Kis 2:27,31  Wah 6:8  Wah 20:28.
2.   Kalau menunjuk pada tempat maka Sheol / Hades bisa berarti:
a.   Kuburan.
Louis Berkhof: “The grave is called SHEOL, because it symbolizes the going down, which is connected with the idea of destruction” (= Kuburan disebut SHEOL, karena itu menyimbolkan penurunan ke bawah, yang dihubungkan dengan gagasan penghancuran) - ‘Systematic Theology’, hal 686.
b.   Neraka (Maz 9:18  Maz 49:15  Maz 55:16  Amsal 15:11,24  Luk 16:23).
Louis Berkhof menambahkan:
“There are several passages in which SHEOL and HADES seem to designate the grave. It is not always easy to determine, however, whether the words refer to the grave or to the state of the death” (= Ada beberapan text dalam mana SHEOL dan HADES kelihatannya menunjuk pada ‘kuburan’. Tetapi tidak selalu mudah untuk menentukan apakah kata-kata itu menunjuk pada ‘kuburan’ atau pada ‘keadaan kematian’) - ‘Systematic Theology’, hal 686.
Bandingkan dengan Kej 37:35  Kej 42:38  Kej 44:29  1Raja 2:6,9  Ayub 14:13  Ayub 17:13  Ayub 21:13  Maz 6:6  Maz 88:4  Pengkhotbah 9:10.
Karena itu saya sendiri lebih senang untuk memberikan 2 arti untuk SHEOL / HADES, yaitu:
1.   Keadaan kematian / kuburan.
2.   Neraka.
Catatan:  Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa kata SHEOL / HADES tidak pernah menunjuk pada tempat penantian, ataupun tempat tahanan, seperti yang diajarkan oleh Andereas Samudera!
Tetapi dalam sepanjang buku ini kalau saya menggunakan kata Sheol / Hades maka saya sering mengikuti arti yang diberikan oleh Andereas Samudera, bukan arti yang sebenarnya yang saya percayai.
 
b)   Pembahasan tentang kata ‘Firdaus’.
Pembahasan tentang arti dari kata ‘Firdaus’ ini penting, karena ada orang-orang yang berpendapat bahwa ‘tempat penantian’ itu terdiri dari 2 bagian, yaitu SHEOL / HADES untuk orang-orang yang tidak percaya, dan Firdaus untuk orang-orang yang percaya. Dalam pembahasan ini saya ingin menunjukkan bahwa ini merupakan pandangan yang salah.
Kata ‘Firdaus’ berasal dari kata bahasa Yunani PARADEISOS, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan paradise (= surga). Kata Yunani itu muncul hanya 3 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam 2Kor 12:4, Wah 2:7, dan Luk 23:43. Mari kita melihat ketiga ayat ini.
1.   2Kor 12:2,4 - “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. ... Aku juga tahu tentang orang itu, - entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia”.
Ada 2 hal yang ingin saya bahas dari ayat ini:
·        tingkat ke 3 dari surga.
Barnes’ Notes tentang 2Kor 12:2:
“The Jews sometimes speak of seven heavens, ... But the Bible speaks of but three heavens; and among the Jews in the apostolic ages, also, the heavens were divided into three: (1) The aerial, including the clouds and the atmosphere, the heavens above us, until we come to the stars. (2) The starry heavens - the heavens in which the sun, moon, and stars appear to be situated. (3) The heavens beyond the stars. That heaven was supposed to be the residence of God, of angels, and of holy spirits. It was this upper heaven, the dwelling-place of God, to which Paul was taken, and whose wonders he was permitted to behold - this region where God dwelt, where Christ was seated at the right hand of the Father, and where the spirits of the just were assembled” [= Orang-orang Yahudi kadang-kadang berbicara tentang tujuh langit / surga. ... Tetapi Alkitab berbicara hanya tentang 3 langit / surga; dan di antara orang-orang Yahudi dalam jaman rasul-rasul, langit / surga juga dibagi menjadi 3: (1) Udara, termasuk awan-awan dan atmosfir, langit di atas kita, sampai kita sampai pada bintang-bintang. (2) Langit / surga dengan bintang-bintang - langit di mana matahari, bulan, dan bintang-bintang diletakkan. (3) Langit / surga di atas bintang-bintang. Langit / surga itu dianggap sebagai tempat tinggal Allah, malaikat-malaikat, dan roh-roh yang kudus. Surga bagian atas inilah, tempat tinggal dari Allah, kemana Paulus diangkat, dan diijinkan untuk melihat keajaiban-keajaibannya - daerah ini dimana Allah tinggal, dimana Kristus duduk di sebelah kanan Bapa, dan dimana roh-roh dari orang-orang benar dikumpulkan] - hal 902.
Contoh ayat untuk 3 langit / surga.
*        langit pertama ® Daniel 4:11 - “pohon itu bertambah besar dan kuat, tingginya sampai ke langit, dan dapat dilihat sampai ke ujung seluruh bumi”.
*        langit kedua ® Kej 22:17 - “maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya”.
*        langit ketiga ® Mat 6:9 - “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu”.
Jadi pada waktu Paulus mengatakan bahwa ia diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga, maksudnya adalah bahwa ia diangkat ke surga.
·        kalau kita membandingkan 2Kor 12:4 dengan 2Kor 12:2, maka jelas bisa kita dapatkan bahwa Firdaus adalah surga, karena dalam 2Kor 12:2 Paulus mengatakan diangkat ke sorga, sedangkan dalam 2Kor 12:4 Paulus mengatakan diangkat ke Firdaus.
2.   Wah 2:7 - “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah”.
Jadi, dalam Wah 2:7 dikatakan bahwa dalam taman Firdaus itu terdapat pohon kehidupan. Sekarang bandingkan dengan:
·        Wah 22:2 - “Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa”.
·        Wah 22:14 - “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu”.
·        Wah 22:19 - “Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini”.
Kontext dari ketiga ayat ini membicarakan tentang surga, dan karena itu terlihat bahwa pohon kehidupan itu ada di surga.
Kesimpulannya lagi-lagi adalah bahwa Firdaus adalah surga!
Barnes’ Notes tentang Wah 2:7:
“Heaven, represented as paradise. To be permitted to eat of that tree, that is, of the fruit of that tree, is but another expression implying the promise of eternal life, and of being happy for ever” (= Surga, digambarkan sebagai Firdaus. Diijinkan untuk makan dari pohon, yaitu dari buah dari pohon itu, hanyalah kata-kata lain untuk janji tentang kehidupan kekal, dan tentang kebahagiaan selama-lamanya) - hal 1556.
3.   Kata ‘Firdaus’ dalam Luk 23:43 (kata-kata Yesus kepada penjahat yang bertobat), pasti artinya juga adalah ‘surga’, karena Luk 23:46 menunjukkan bahwa Yesus menyerahkan rohNya kepada Bapa, yang identik dengan ‘pergi ke surga’.
Perhatikan beberapa komentar dari para penafsir di bawah ini tentang arti kata ‘Firdaus’ ini.
Barnes’ Notes tentang Luk 23:43:
“‘Paradise.’ This is a word of Persian origin, and means a garden, and particularly a garden of pleasure, filled with trees, and shrubs, and fountains, and flowers. In hot climates such gardens were peculiarly pleasant; and hence they were attached to the mansions of the rich, and to the palaces of the princes. ... in Gen. 2:8, the Septuagint renders the word ‘Eden’ by ‘Paradise.’ Hence this name in the Scriptures comes to denote the abodes of the blessed in the other world” (= ‘Firdaus’. Kata ini berasal dari kata bahasa Persia, dan berarti suatu kebun / taman, dan khususnya suatu taman kesenangan, berisikan pohon-pohon, dan semak-semak, dan air mancur, dan bunga-bunga. Pada cuaca panas, taman seperti itu sangat menyenangkan; dan karena itu taman seperti itu selalu ada dalam tempat tinggal orang kaya, dan istana dari pangeran-pangeran. ... Dalam Kej 2:8, Septuaginta menterjemahkan kata ‘Eden’ dengan ‘Firdaus’. Karena itu dalam Kitab Suci nama itu menunjukkan tempat tinggal dari orang-orang yang diberkati dalam dunia yang lain) - hal 255.
Louis Berkhof: “the New Testament clearly identifies paradise with heaven in 2Cor. 12:2,4” (= Perjanjian Baru secara jelas mengidentikkan Firdaus dengan surga dalam 2Kor 12:2,4) - ‘Systematic Theology’, hal 683.
Calvin tentang 2Kor 12:4:
“As every region that is peculiarly agreeable and delightful is called in the Scriptures the ‘garden of God,’ it came from this to be customary among the Greeks to employ the term ‘paradise’ to denote the heavenly glory, even previously to Christ’s advent” (= Karena setiap daerah yang menyenangkan disebut dalam Kitab Suci sebagai ‘taman / kebun Allah’, maka dari sini lalu timbul kebiasaan di antara orang-orang Yunani untuk menggunakan istilah ‘Firdaus’ untuk menunjuk pada kemuliaan surgawi, bahkan sebelum kedatangan Kristus) - hal 368-369.
Barnes’ Notes tentang 2Kor 12:4:
“The word ‘paradise’ (paradeison) occurs but three times in the New Testament, Luk. 23:43; Rev. 2:7; and in this place. It occurs often in the Septuagint, as the translation of the word ‘garden,’ Gen. 2:8-10,15,16; 3:1-3,8,10,23,24; 13:10; Numb. 24:6; Isa. 51:3; Ezek. 28:13; 31:8,9; Joel 2:3. And also Isa. 1:30; Jer. 24:5; and of the word (sdrp) Pardes in Neh. 2:8; Eccl. 2:5; Cant. 4:13. It is a word which had its origin in the language of eastern Asia, and which has been adopted in the Greek, the Roman, and other western languages. In Sanscrit, the word paradesha means a land elevated and cultivated; in Armenian, pardes denotes a garden around the house planted with trees, shrubs, grass, for use and ornament. In Persia, the word denotes the pleasure-gardens and parks with wild animals around the country residences of the monarchs and princes. Hence it denotes in general a garden of pleasure; and in the New Testament is applied to the abodes of the blessed after death, the dwelling place of God and of happy spirits; or to heaven as a place of blessedness. Some have supposed that Paul here, by the word ‘paradise,’ means to describe a different place from that denoted by the phrase ‘the third heaven;’ but there is no good reason for this supposition. The only difference is, that this word implies the idea of a place of blessedness; but the same place is undoubtedly referred to” [= Kata ‘Firdaus’(paradeison) muncul hanya 3 x dalam Perjanjian Baru, Luk 23:43; Wah 2:7; dan di tempat ini. Kata itu sering muncul dalam the Septuaginta, sebagai terjemahan dari kata ‘kebun / taman’, Kej 2:8-10,15,16; 3:1-3,8,10,23,24; 13:10; Bil 24:6; Yes 51:3; Yeh 28:13; 31:8,9; Yoel 2:3. Dan juga Yes 1:30; Yer 24:5; dan dari kata (sdrp) Pardes dalam Neh 2:8; Pengkhotbah 2:5; Kidung 4:13. Itu adalah suatu kata yang mempunyai asal usul dalam bahasa Asia Timur, dan yang telah diadopsi dalam bahasa Yunani, Romawi, dan bahasa-bahasa Barat yang lain. Dalam bahasa Sansekerta, kata paradesha berarti suatu tanah yang tinggi dan ditanami; dalam Armenia, pardes menunjuk pada suatu taman / kebun di sekitar rumah yang ditanami dengan pohon-pohon, semak-semak, rumput, untuk kegunaan dan hiasan. Di Persia, kata itu menunjuk kebun kesenangan dan taman dengan binatang-binatang liar di sekitar tempat tinggal dari raja-raja dan pangeran-pangeran. Karena itu kata ini secara umum menunjuk pada taman / kebun kesenangan; dan dalam Perjanjian Baru diterapkan pada tempat tinggal dari orang-orang yang diberkati setelah kematian, tempat tinggal Allah dan roh-roh yang bahagia; atau pada surga sebagai tempat yang penuh berkat. Sebagian orang menganggap bahwa di sini Paulus memaksudkan kata Firdaus sebagai tempat yang berbeda dengan yang ditunjukkan oleh ungkapan ‘tingkat yang ketiga dari sorga’; tetapi tidak ada alasan yang baik untuk anggapan ini. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa kata ini secara tidak langsung menunjukkan gagasan tentang tempat yang penuh berkat; tetapi tidak diragukan bahwa tempat yang sama yang ditunjuk / dimaksudkan] - hal 902.
Jadi, sama seperti kata SHEOL / HADES, kata ‘Firdaus’ tidak pernah menunjuk pada ‘tempat penantian’. Kalau kata SHEOL/ HADES kadang-kadang menunjuk pada ‘neraka’ dan kadang-kadang pada ‘keadaan kematian’ / ‘kuburan’, maka kata ‘Firdaus’ selalu menunjuk pada ‘surga’.
 
c)   Pembahasan tentang keadaan setelah kematian.
 
1.   Pada waktu seseorang mati, ia langsung masuk surga atau neraka.
 
Dasar dari pandangan ini:
 
a.   Paulus percaya bahwa begitu ia mati, ia langsung masuk surga.
 
·        2Kor 5:1 - “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar (artinya: jika kita mati - bdk. Yes 38:12), Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”.
 
NIV/NASB: ‘we have a building from God’.
 
Perhatikan kata ‘have’ yang ada dalam ‘present tense’ (= bentuk sekarang), bukan ‘future tense’ (= bentuk yang akan datang). Ini menunjukkan bahwa begitu kita mati, kita langsung mendapatkan rumah itu.
Charles Hodge: “The present tense, EKHOMEN, is used because the one event immediately follows the other; there is no perceptible interval between the dissolution of the earthly tabernacle and entering on the heavenly house. As soon as the soul leaves the body it is in heaven. ... The soul therefore at death enters a house whose builder is God” (= Present tense, EKHOMEN, digunakan karena peristiwa yang satu langsung mengikuti yang lain; di sana tidak ada selang waktu yang terlihat di antara hancurnya kemah duniawi dan masuknya ke rumah surgawi. Begitu jiwa meninggalkan tubuh, jiwa itu ada di surga. ... Karena itu, pada saat mati jiwa memasuki rumah yang pembangunnya adalah Allah) - hal 489.
 
·        2Kor 5:8b: ‘terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan’.
 
NASB: ‘to be at home with the Lord’ (= ada di rumah bersama Tuhan).
 
NIV: ‘at home with the Lord’ (= di rumah bersama Tuhan).
 
Literal / hurufiah: ‘to come home to the Lord’ (= pulang ke rumah kepada Tuhan).
 
Jadi ini menunjukkan bahwa bagi Paulus ‘mati’ sama dengan ‘pulang ke rumah Bapa’ dan ini menunjukkan bahwa begitu seorang kristen mati ia langsung masuk surga.
 
·        Fil 1:23 - “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik”.
 
Kata ‘pergi’ di sini jelas menunjuk kepada ‘mati’. Jadi Paulus berkata kalau ia mati, ia diam bersama-sama dengan Kristus. Ini pasti sama dengan masuk surga.
 
b.   Yesus menjanjikan bahwa penjahat yang bertobat di kayu salib akan masuk ke Firdaus (= surga) pada hari itu juga.
 
Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
 
c.   Langsung masuk surga pada waktu mati ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang percaya Perjanjian Baru, tetapi juga untuk orang-orang percaya Perjanjian Lama.
 
Louis Berkhof: “In connection with this clear representation of the New Testament, it has been suggested that the New Testament believers were privileged above those of the Old Testament by receiving immediate access to the bliss of heaven. But the question may well be asked, What basis is there for assuming such a distinction?” (= Sehubungan dengan penggambaran yang jelas dari Perjanjian Baru ini, telah diusulkan bahwa orang-orang percaya Perjanjian Baru diberi hak lebih dari orang-orang percaya Perjanjian Lama dengan langsung masuk ke dalam kebahagiaan surga. Tetapi bisa dipertanyakan: Apa dasarnya untuk menganggap adanya perbedaan seperti itu?) - ‘Systematic Theology’, hal 683.
 
Dari kutipan ini jelas bahwa Berkhof mempercayai bahwa bukan hanya orang percaya jaman Perjanjian Baru yang langsung masuk ke surga pada saat mati, tetapi juga orang percaya jaman Perjanjian Lama.
 
Dasar Kitab Suci untuk pandangan ini:
 
·        Elia dan Henokh dikatakan naik ke surga / diangkat (2Raja 2:1,11  Kej 5:24  Ibr 11:5). Abraham dikatakan ada di surga (Luk 16:22). Tidak ada alasan untuk membedakan orang-orang ini dengan orang-orang percaya Perjanjian Lama yang lain. Disamping itu, Lazarus juga langsung masuk surga (Luk 16:22), dan perlu dicamkan bahwa sebetulnya cerita ini masih termasuk dalam Perjanjian Lama, karena Yesus belum mati dan bangkit.
 
·        Bil 23:10 - “Siapakah yang menghitung debu Yakub dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan Israel? Sekiranya aku mati seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal mereka!”.
 
Bahwa Bileam bisa menginginkan kematian orang jujur, itu menunjukkan bahwa orang jujur itu pasti langsung masuk surga pada saat mati.
 
·        Maz 17:15 - “Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajahMu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupaMu”.
 
Banyak penafsir menafsirkan bahwa kata ‘bangun’ di sini menunjuk pada kematian, dimana orangnya akan ‘bangun di surga’ dan ia merasa puas dengan rupa / wajah Tuhan.
 
·        Maz 49:14-16 - “Inilah jalannya orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri, ajal orang-orang yang gemar akan perkataannya sendiri. Sela Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka. Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku. Sela”.
 
KJV: ‘But God will redeem my soul from the power of the grave: for he shall receive me. Selah.’ (= Tetapi Allah akan menebus jiwaku dari kuasa kubur: karena Ia akan menerima aku. Sela).
 
·        Maz 73:24,26 - “Dengan nasihatMu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. ... Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap (= pada saat aku mati), gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”.
 
·        Amsal 14:32 - “Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya, tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya”.
 
KJV: ‘The wicked is driven away in his wickedness: but the righteous hath hope in his death’ (= Orang jahat diusir dalam kejahatannya: tetapi orang benar mempunyai pengharapan dalam kematiannya).
 
·        Amsal 15:24 - “Jalan kehidupan orang berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang mati di bawah”.
Jadi dengan ini saya menolak ajaran Andereas Samudera yang mengatakan bahwa para orang kudus Perjanjian Lama, kecuali Henokh, Abraham, Musa, dan Elia, semua masuk ke Hades dan menjadi tawanan perang Iblis, dan dijaga oleh Iblis (‘Dunia Orang Mati’, hal 28,29,41,43). Saya berpendapat bahwa semua orang percaya jaman Perjanjian Lama langsung masuk surga pada saat mereka mati.
d.   Cerita tentang Lazarus dan orang kaya (Luk 16:19-31), bukan hanya menunjukkan bahwa orang percaya yang mati langsung masuk surga, tetapi juga menunjukkan bahwa orang tidak percaya yang mati akan langsung masuk neraka.
 
Bacalah cerita ini dan saudara akan melihat bahwa sekalipun orang kaya itu masih mempunyai 5 saudara yang masih hidup, yang menandakan bahwa Yesus belum datang untuk keduakalinya, tetapi ia sendiri sudah masuk ke alam maut / Hades (ay 23), yang digambarkan sebagai tempat penderitaan dengan nyala api (ay 23-25), sehingga jelas menunjuk pada neraka.
 
e.   Yudas 1:7 - “sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”.
 
Perhatikan bahwa di sini digunakan kata-kata ‘telah menanggung’ bukan ‘akan menanggung’. Dalam bahasa Yunani digunakan kata upecousai (HUPECHOUSAI), yang merupakan suatu ‘present participle’, sehingga bisa diartikan ‘sedang mengalami / menanggung’.
Jadi, pada saat Yudas menulis surat ini (abad pertama Masehi), orang-orang Sodom dan Gomora itu sedang menanggung / mengalami siksaan api kekal / neraka. Dengan demikian jelaslah bahwa orang jahat bukannya baru akan dimasukkan ke neraka pada saat Yesus datang untuk keduakalinya.
 
f.    Dalam Wah 20:10 dikatakan: “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.
 
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari ayat ini:
 
·        pada waktu Iblis dimasukkan ke neraka, ternyata neraka itu tidak kosong, tetapi binatang dan nabi palsu itu sudah ada di sana. Saya tidak ingin mempersoalkan kata ‘binatang’ itu menunjuk kepada siapa, tetapi saya hanya ingin menekankan bahwa sudah ada manusia di neraka sebelum Iblis dibuang ke sana pada akhir jaman.
 
·        Iblis baru akan masuk ke neraka pada akhir jaman / kedatangan Yesus yang keduakalinya! Sekarang ini Iblis / setan tidak ada di neraka ataupun di Hades tetapi ada di dunia untuk menggoda manusia (bdk. Mat 8:29b - ‘Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’).
Karena itu jangan percaya orang-orang yang mengatakan mengalami mujijat dibawa ke neraka, dan melihat setan ada di sana, menyiksa orang-orang yang masuk ke neraka. Kitab Suci jelas menyatakan bahwa pada saat ini setan belum masuk neraka, dan kalau nanti pada akhir jaman ia masuk ke neraka, maka ia akan disiksa, bukan menyiksa!
Ada ayat yang seolah-olah menunjukkan bahwa setan sekarang sudah di neraka, yaitu 2Pet 2:4 - “Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman”.
 
Untuk menafsirkan ayat ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
 
*        Kata ‘neraka’ di sini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani TARTARUS yang hanya dipergunakan satu kali ini saja dalam Kitab Suci. Karena itu sukar diketahui artinya secara pasti.
 
*        Bagian ini tidak boleh ditafsirkan seakan-akan setan sudah masuk neraka, karena ini akan bertentangan dengan Mat 8:29  Mat 25:41  Wah 20:10 yang menunjukkan secara jelas bahwa saat ini setan belum waktunya masuk neraka. Itu baru akan terjadi pada kedatangan Yesus yang keduakalinya.
 
*        Disamping itu, kalau ditafsirkan bahwa setan sudah masuk ke neraka, maka itu akan bertentangan dengan 2Pet 2:4 itu sendiri, yang pada bagian akhirnya berbunyi: ‘dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman’.
 
Jadi, mungkin bagian ini hanya menunjukkan kepastian bahwa setan akan masuk neraka.
Sekarang saya kembali akan memberikan beberapa kutipan untuk mendukung pandangan saya.
Westminster Confession of Faith Chapter XXXII, no 1:
The bodies of men, after death, return to dust, and see corruption: but their souls, which neither die nor sleep, having an immortal subsistence, immediately return to God who gave them: the souls of the righteous, being then made perfect in holiness, are received into the highest heavens, where they behold the face of God, in light and glory, waiting for the full redemption of their bodies. And the souls of the wicked are cast into hell, where they remain in torments and utter darkness, reserved to the judgment of the great day. Beside these two places, for souls separated from their bodies, the Scripture acknowledgeth none” (= Tubuh-tubuh manusia, setelah kematian, kembali menjadi debu, dan mengalami pembusukan: tetapi jiwa-jiwa mereka, yang tidak mati ataupun tidur, karena mempunyai keberadaan yang tidak bisa mati, langsung kembali kepada Allah yang memberikan jiwa-jiwa itu: jiwa-jiwa dari orang benar, pada saat itu disempurnakan dalam kekudusan, diterima ke dalam surga yang tertinggi, dimana mereka memandang wajah Allah, dalam terang dan kemuliaan, menunggu penebusan penuh dari tubuh-tubuh mereka. Dan jiwa-jiwa orang jahat dibuang ke dalam neraka, dimana mereka tinggal dalam penyiksaan dan kegelapan total, disimpan untuk penghakiman pada hari besar. Disamping kedua tempat ini, untuk jiwa-jiwa yang terpisah dari tubuh-tubuh mereka, Kitab Suci tidak mengakui ada tempat lain).
 
W. G. T. Shedd: “there is no essential difference between Paradise and Heaven. ... there is no essential difference between Hades and Hell” (= tidak ada perbedaan yang hakiki antara Firdaus dan surga. ... tidak ada perbedaan yang hakiki antara Hades dengan neraka) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 594.
W. G. T. Shedd: “The substance of the Reformed view, then, is, that the intermediate state for the saved is Heaven without the body, and the final state for the saved is Heaven with the body; that the intermediate state for the lost is Hell without the body, and the final state for the lost is Hell with the body. In the Reformed, or Calvinistic eschatology, there is no intermediate Hades between Heaven and Hell, which the good and evil inhabit in common. When this earthly existence is ended, the only specific places and states are Heaven and Hell. Paradise is a part of Heaven; Hades is a part of Hell” (= Maka, hakekat dari pandangan Reformed adalah bahwa keadaan antara kematian dan kebangkitan untuk orang yang diselamatkan adalah Surga tanpa tubuh, dan keadaan akhir untuk orang yang diselamatkan adalah Surga dengan tubuh; bahwa keadaan antara kematian dan kebangkitan untuk orang yang terhilang adalah Neraka tanpa tubuh, dan keadaan akhir untuk orang yang terhilang adalah Neraka dengan tubuh. Dalam doktrin tentang akhir jaman Reformed atau Calvinisme, tidak ada Hades di antara Surga dan Neraka, dimana orang baik dan orang jahat tinggal bersama-sama. Pada waktu keberadaan duniawi ini berakhir, satu-satunya tempat dan keadaan adalah Surga dan Neraka. Firdaus adalah suatu bagian dari Surga; Hades adalah suatu bagian dari Neraka) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 594-595.
 
Louis Berkhof: “The Bible sheds very little direct light on this subject. The only passage that can really come into consideration here is the parable of the rich man and Lazarus in Luke 16, where HADES denotes hell, the place of eternal torment. In addition to this direct proof there is also an inferential proof. If the righteous enter upon their eternal state at once, the presumption is that this is true of the wicked as well” (= Alkitab memberikan sangat sedikit terang langsung pada subyek ini. Satu-satunya text yang bisa betul-betul dipertimbangkan di sini adalah perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus dalam Luk 16, dimana HADES menunjuk kepada neraka, tempat penyiksaan kekal. Sebagai tambahan pada bukti langsung ini juga ada bukti tak langsung. Jika orang benar masuk ke dalam keadaan kekal mereka secara langsung, maka kita juga harus menganggap bahwa ini juga benar bagi orang jahat) - ‘Systematic Theology’, hal 680.
 
Ada 2 keberatan tentang pandangan bahwa orang akan langsung masuk surga / neraka pada saat mati:
 
·        Ada satu ayat yang kelihatannya menunjukkan bahwa orang jahat tidak langsung masuk ke neraka pada saat mati, yaitu 2Pet 2:9 - “maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman”.
Calvin: “By this clause he shews that God so regulates his judgments as to bear with the wicked for a time, but not to leave them unpunished. Thus he corrects too much haste, by which we are wont to be carried headlong, especially when the atrocity of wickedness grievously wounds us, for we then wish God to fulminate without delay; when he does not do so, he seems no longer to be the judge of the world. Lest, then, this temporary impunity of wickedness should disturb us, Peter reminds us that a day of judgment has been appointed by the Lord; and that, therefore, the wicked shall by no means escape punishment, though it be not immediately inflicted. There is an emphasis in the word ‘reserve,’ as though he had said, that they shall not escape the hand of God, but be held bound as it were by hidden chains, that they may at a certain time be drawn forth to judgment. ... he bids us to rely on the expectation of the last judgment, so that in hope and patience we may fight till the end of life” [= Dengan kalimat ini (yang saya garis bawahi) ia menunjukkan bahwa begitu mengatur penghakimanNya sehingga bersabar terhadap orang jahat untuk sementara waktu, tetapi tidak akan membiarkan mereka tidak dihukum. Demikianlah ia membetulkan ketergesa-gesaan, dengan mana kita biasa terbawa, khususnya pada waktu kekejaman / kekejian dari kejahatan melukai / menyakiti kita secara menyedihkan, karena pada saat itu kita berharap Allah mengguntur tanpa penundaan; dan pada waktu Ia tidak berbuat demikian, Ia kelihatannya bukan lagi Hakim dunia ini. Supaya kebebasan sementara dari hukuman kejahatan ini tidak mengganggu kita, Petrus mengingatkan kita bahwa suatu hari penghakiman telah ditetapkan oleh Tuhan; dan karena itu orang jahat tidak bakal akan lolos dari penghukuman., sekalipun penghukuman itu tidak langsung diberikan. Ada penekanan pada kata ‘menyimpan’, seolah-olah ia berkata bahwa mereka tidak akan lolos dari tangan Allah, tetapi seakan-akan diikat dengan rantai yang tersembunyi, sehingga pada saat tertentu mereka bisa ditarik kepada penghakiman. ... ia meminta kita untuk bersandar pada pengharapan tentang penghakiman akhir sehingga dalam pengharapan dan kesabaran kita bisa bertempur sampai mati] - hal 400.
 
Dari kata-kata Calvin ini kelihatannya ia memaksudkan bahwa Tuhan menyimpan orang-orang jahat itu bukan pada saat mereka mati atau setelah mereka mati, tetapi pada saat mereka hidup. Perhatikan bahwa:
 
*        ayat itu tidak mengatakan bahwa orang-orang jahat itu sudah mati.
 
*        ay 9a membicarakan tentang orang-orang saleh itu dalam keadaan hidup (karena mereka dicobai), maka ay 9b jelas juga membicarakan orang-orang jahat itu dalam keadaan hidup.
Kesimpulan: 2Pet 2:9 tidak menentang pandangan bahwa orang jahat yang mati akan langsung masuk neraka.
 
·        Kalau orang mati langsung masuk ke surga / neraka secara langsung, apa gunanya penghakiman akhir jaman?
 
Ada 2 kemungkinan untuk menjawab pertanyaan ini:
 
*        Sebelum kedatangan Yesus yang keduakalinya, yang masuk surga / neraka hanya jiwa / rohnya, dan itupun belum dengan pahala dan hukuman yang seharusnya. Nanti pada saat Yesus datang keduakalinya, akan ada kebangkitan daging / orang mati, dan penghakiman akhir jaman. Maka barulah jiwa / roh dipersatukan kembali dengan tubuh dan orang itu masuk surga / neraka dengan pahala / hukuman yang seharusnya.
 
*        Penghakiman akhir jaman hanya merupakan pengumuman resmi di hadapan semua malaikat dan manusia.
Louis Berkhof: “It is sometimes represented as if man’s eternal destiny depends upon a trial at the last day, but this is evidently a mistake. The day of judgment is not necessary to reach a decision respecting the reward or punishment of each man, but only for the solemn announcement of the sentence, and for the revelation of the justice of God in the presence of men and angels. The surprise of which some of the passages give evidence pertains to the ground on which the judgment rests rather than to the judgment itself” (= Kadang-kadang digambarkan seakan-akan nasib kekal manusia tergantung pada penghakiman pada hari terakhir, tetapi ini jelas merupakan suatu kesalahan. Hari penghakiman tidak perlu untuk mencapai suatu keputusan mengenai pahala atau hukuman setiap orang, tetapi hanya untuk pengumuman keputusan yang khidmat, dan untuk menyatakan keadilan Allah di hadapan manusia dan malaikat. Kejutan yang diberikan oleh beberapa text berkenaan dengan dasar dari penghakiman itu dan bukannya dengan penghakiman itu sendiri) - ‘Systematic Theology’, hal 689.
Catatan: ayat-ayat yang menunjukkan kejutan mungkin adalah ayat-ayat seperti Mat 7:22-23  Mat 25:37-39,44.
 
Louis Berkhof: “Some regard the final judgment as entirely unnecessary, because each man’s destiny is determined at the time of his death. ... the underlying assumption on which this argument proceeds, namely, that the final judgment is for the purpose of ascertaining what should be the future state of man, is entirely erroneous. It will serve the purpose rather of displaying before all rational creatures the declarative glory of God in a formal, forensic act, which magnifies on the one hand His holiness and righteousness, and on the other hand, His grace and mercy. Moreover, it should be borne in mind that the judgment at the last day will differ from that at the death of each individual in more than one respect. It will not be secret, but public; it will not pertain to the soul only, but also to the body; it will not have reference to a single individual, but to all men” (= Sebagian orang menganggap bahwa penghakiman akhir sama sekali tidak perlu, karena nasib setiap orang ditentukan pada saat kematiannya. ... anggapan yang mendasari argumentasi ini, yaitu bahwa penghakiman akhir itu tujuannya untuk memastikan keadaan yang akan datang dari manusia, adalah sepenuhnya salah. Penghakiman akhir itu tujuannya adalah menunjukkan di hadapan semua makhluk rasionil kemuliaan yang dinyatakan dari Allah dalam suatu tindakan formil / resmi dan bersifat hukum / pengadilan, yang di satu sisi memuliakan kekudusan dan kebenaranNya, dan di sini lain kasih karunia dan belas kasihanNya. Selain itu, harus dicamkan bahwa penghakiman pada hari terakhir berbeda dengan penghakiman pada kematian dari setiap individu dalam lebih dari satu hal. Itu tidak akan terjadi secara rahasia, tetapi bersifat umum; itu tidak berkenaan dengan jiwa saja, tetapi juga dengan tubuh; itu tidak berhubungan dengan satu individu saja, tetapi dengan semua manusia) - ‘Systematic Theology’, hal 731.
 
2.   Setelah seseorang masuk ke surga / neraka, maka tidak bisa ada perubahan tempat.
 
Yang saya maksudkan dengan tidak bisa ada perubahan tempat, adalah bahwa orang yang masuk ke surga tidak bisa tahu-tahu pindah ke neraka, dan orang yang masuk ke neraka tidak bisa pindah ke surga.
 
Apa dasar dari pandangan ini?
 
·        Luk 16:26 - “Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang”.
 
·        Kitab Suci mengatakan bahwa orang yang percaya mendapatkan ‘hidup yang kekal’, sedangkan orang yang tidak percaya mendapatkan ‘hukuman yang kekal’. Kalau bisa pindah, tentu tidak akan disebutkan sebagai ‘kekal’.
 
Bahwa hukuman di neraka bersifat kekal / tidak ada akhirnya digambarkan oleh:
 
*        ‘api yang tidak terpadamkan’ (Mat 3:12b  Mark 9:43b,48).
 
*        ‘api yang kekal’ (Mat 25:41  Yudas 7).
 
*        ‘siksaan yang kekal’ (Mat 25:46).
 
*        ‘ulat-ulatnya tidak akan mati’ (Mark 9:44,46,48).
 
*        ‘siang malam tidak henti-hentinya’ (Wah 14:11).
 
*        ‘siang malam sampai selama-lamanya’ (Wah 20:10).
William G.T. Shedd: “Had Christ intended to teach that future punishment is remedial and temporary, he would have compared it to a dying worm, and not to an undying worm; to a fire that is quenched, and not to an unquenchable fire” (= Andaikata Kristus bermak­sud untuk mengajar bahwa hukuman yang akan datang itu bersi­fat memperbaiki dan bersifat sementara, Ia akan membandingkannya dengan ulat yang bisa mati, dan bukannya dengan ulat yang tidak bisa mati; dengan api yang bisa padam, dan bukannya dengan api yang tidak dapat dipadamkan) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 681.
 
Saya ingin memberikan beberapa kutipan kata-kata Spurgeon dari khotbahnya tentang Luk 16:26 yang diberi judul ‘The Bridgeless Gulf’ (= Jurang pemisah yang tidak mempunyai jembatan).
 
Charles Haddon Spurgeon: “Human ingenuity has done very much to bridge great gulfs. Scarcely has the world afforded a river so wide that its floods could not be overleaped; or a torrent so furious that it could not be made to pass under the yoke. High above the foam of Columbia’s glorious cataract, man has hung aloft his slender but substantial road of iron, and the shriek of the locomotive is heard above the roar of Niagara. This very week I saw the first chains which span the deep rift through which the Bristol Avon finds its way at Clifton; man has thrown his suspension bridge across the chasm, and men will soon travel where only that which hath wings could a little while ago have found a way. There is, however, one gulf which no human skill or engineering ever shall be able to bridge; there is one chasm which no wing shall ever be able to cross; it is the gulf which divide the world of joy in which the righteous triumph, from that land of sorrow in which the wicked feel the smart of Jehovah’s sword. ... there is a great gulf fixed, so that there can be no passage from the one world to the other” (= Kepandaian manusia telah menjembatani banyak jurang besar. Hampir tidak ada sungai yang begitu lebar yang tidak bisa diseberangi; atau aliran air yang deras yang tidak bisa dilalui. Di atas air terjun Kolumbia, manusia telah menggantung jalan dari besi, dan bunyi lokomotif terdengar di atas gemuruh Niagara. Minggu yang baru lalu ini saya melihat rantai pertama membentang antara Bristol Avon dan Clifton; manusia telah membuat jembatan menyeberangi jurang itu, sehingga manusia segera bisa menyeberangi jurang yang dulunya hanya bisa diseberangi oleh burung yang bersayap. Tetapi ada satu jurang yang tidak pernah bisa diseberangi oleh kepandaian dan teknologi man/; ada satu jurang yang tidak pernah bisa diseberangi oleh sayap manapun; itu adalah jurang yang memisahkan dunia sukacita dalam mana orang-orang benar menang; dari tanah kesedihan dalam mana orang-orang jahat merasakan tajamnya pedang Yehovah. ... disana terbentang suatu jurang yang besar sehingga tidak bisa ada jalan dari satu dunia ke dunia yang lain) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 414.
 
Charles Haddon Spurgeon: “The lost spirits in hell are shut in for ever” (= Roh-roh yang terhilang dalam neraka dikurung untuk selama-lamanya) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 418.
 
Charles Haddon Spurgeon: “You do not like the house of God; you shall be shut out of it. You do not love the Sabbath; you are shut out from the eternal Sabbath” (= Engkau tidak menyukai rumah Allah; engkau akan dihalangi untuk memasukinya. Engkau tidak mencintai Sabat; engkau dihalangi untuk memasuki Sabat yang kekal) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 419-420.
Catatan:  kata-kata ini berhubungan dengan Ibr 4:1-11.
 
Charles Haddon Spurgeon: “As nothing can come from hell to heaven, so nothing heavenly can ever come to hell. ... Nay, Lazarus is not permitted to dip the tip of his finger in water to administer the cooling drop to the fire-tormented tongue. Not a drop of heavenly water can ever cross that chasm. See then, sinner, heaven is rest, perfect rest - but there is no rest in hell; it is labour in the fire, but no ease, no peace, no sleep, no calm, no quiet; everlasting storm; eternal hurricane; unceasing tempest. In the worst disease, there are some respites: spasms of agony, but then pauses of repose. There is no pause in hell’s torments” (= Sebagaimana tidak ada apapun yang bisa datang dari neraka ke surga, demikian juga tidak ada apapun yang bisa datang dari surga ke neraka. ... Tidak, Lazarus tidak diijinkan untuk mencelupkan ujung jarinya dalam air untuk memberikan tetesan penyejuk kepada lidah yang disiksa oleh api. Tidak setetes air surgawipun bisa menyeberangi jurang itu. Maka, lihatlah orang berdosa, surga adalah istirahat, istirahat yang sempurna - tetapi tidak ada istirahat di neraka; itu merupakan pekerjaan berat dalam api, tetapi tidak ada kesenangan, tidak ada damai, tidak ada tidur, tidak ada ketenangan; yang ada adalah angin topan selama-lamanya, badai yang kekal, angin ribut yang tidak henti-hentinya. Dalam penyakit yang terburuk, ada istirahat, kekejangan dari penderitaan, tetapi lalu istirahat yang tenang. Tetapi tidak ada istirahat dalam siksaan neraka) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 421.
 
Charles Haddon Spurgeon: “Heaven is the place of sweet communion with God ... There is no communion with God in hell. There are prayers, but they are unheard; there are tears, but they are unaccepted; there are cries for pity, but they are all an abomination unto the Lord” (= Surga adalah tempat persekutuan yang manis dengan Allah ... Tidak ada persekutuan dengan Allah dalam neraka. Di sana ada doa-doa, tetapi mereka tidak dijawab; ada air mata, tetapi tidak diterima; ada jeritan untuk belas kasihan, tetapi semuanya merupakan sesuatu yang menjijikkan bagi Tuhan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 421.
 
Charles Haddon Spurgeon: “heaven’s blessings cannot cross from the celestial regions to the infernal prison-house. No, it is sorrow without relief, misery without hope, and here is the pang of it - it is death without end” (= berkat-berkat surgawi tidak bisa menyeberang dari daerah surgawi ke rumah penjara neraka. Tidak, itu adalah kesedihan tanpa keringanan, kesengsaraan tanpa pengharapan, dan inilah kepedihannya - itu adalah kematian tanpa akhir) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 422.
 
Charles Haddon Spurgeon: “There is only one thing that I know of in which heaven is like hell - it is eternal. ‘The wrath to come, the wrath to come, the wrath to come,’ for ever and for ever spending itself, and yet never being spent” (= Hanya ada satu hal yang saya ketahui dimana surga itu seperti neraka, yaitu bahwa itu bersifat kekal. ‘Murka yang akan datang, murka yang akan datang, murka yang akan datang’ untuk selama-lamanya dan selama-lamanya menghabiskan dirinya sendiri, tetapi tidak pernah habis) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 422.
 
Kalau ada saudara yang belum sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, renungkanlah kata-kata Spurgeon yang mengerikan ini, dan cepatlah datang kepada Kristus sebelum terlambat!
 
d)   Hubungan semua ini dengan ajaran Andereas Samudera.
Sekarang saya akan menyimpulkan point a) - c) yang telah saya bahas di atas, dan menghubungkannya dengan ajaran Andereas Samudera.
 
Kesimpulan / ringkasan dari point-point di atas ini adalah sebagai berikut:
 
·        Sheol / Hades kadang-kadang menunjuk pada kuburan / keadaan kematian, dan kadang-kadang menunjuk pada neraka. Sheol / Hades tidak pernah menunjuk pada tempat penantian.
 
·        Firdaus selalu menunjuk pada surga, tidak pernah menunjuk pada tempat penantian.
 
·        orang mati akan langsung masuk ke surga atau neraka, dan keadaan ini merupakan keadaan yang tetap, tidak bisa berubah.
 
Dengan demikian dimana ada tempat bagi ajaran Andereas Samudera, yang memungkinkan penginjilan terhadap orang yang sudah mati, pertobatan orang mati itu, dsb?

2)  Pada saat Yesus mati, Ia naik ke surga dan tidak turun ke manapun.

 
Ini sesuai dengan:
 
·        Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
 
·        Luk 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.
 
Catatan:  kata ‘nyawa’ dalam ayat ini seharusnya adalah ‘roh’.
 
Dengan demikian jelaslah bahwa pada saat Yesus mati, Ia tidak turun kemana-mana, baik ke neraka, kerajaan maut ataupun tempat penantian, tetapi naik ke surga! Karena itu penginjilan oleh Yesus di dunia orang mati, jelas merupakan omong kosong!
 
Tetapi, kalau demikian, bagaimana dengan kata-kata ‘turun ke dalam Kerajaan Maut’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli?
 
Hal-hal yang perlu diketahui tentang kalimat ‘turun ke dalam neraka / kerajaan maut’ ini:
 
a)   Ayat-ayat Kitab Suci yang sering dipakai (secara salah) sebagai dasar dari doktrin ini:
 
1.   Ef 4:9 - “Bukankah ‘Ia telah naik’ berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?”.
 
‘Bagian bumi yang paling bawah’ sering diartikan sebagai HADES. Tetapi penafsiran ini sangat meragukan karena dalam Ef 4:9 ini Paulus hanya berargumentasi bahwa Kris­tus bisa naik (ke surga) karena Ia telah turun / berinkarnasi (bdk. Yoh 3:13 - “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia”). Jadi ‘bagian bumi yang paling bawah’ harus diartikan sekedar sebagai ‘bumi’ (seperti dalam Maz 139:15). Dengan demikian Ef 4:9 berarti: ‘Kristus bisa naik ke surga karena Ia sudah berinkarnasi’. Karena itu Ef 4:9 ini sebetulnya sama sekali tidak berbicara tentang turunnya Kristus ke HADES / neraka.
 
Dengan demikian jelas bahwa Ef 4:8 - “Itulah sebabnya kata nas: ‘Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.’”, tidak bisa diartikan untuk menunjuk kepada pembebasan orang-orang percaya jaman Perjanjian Lama dari Hades, seperti yang dikatakan oleh Andereas Samudera.
 
Ef 4:8 ini adalah kutipan dari Maz 68:19. Maz 68 adalah nyanyian kemenangan. Paulus mengutip dan menerapkannya kepada Kristus karena kenaikan Kristus ke surga memang adalah suatu kemenangan.
 
2.   1Pet 3:18-20.
 
Di depan sudah saya bahas bahwa arti ayat ini adalah bahwa Roh Ilahi Yesus (Logos) memberitakan Injil melalui Nuh, pada jaman sebelum air bah, kepada orang-orang yang hidup pada saat itu. Jadi, orang-orang itu masih hidup pada saat diinjili, tetapi pada waktu Petrus menuliskan suratnya ini, mereka sudah mati dan karena itu disebutkan sebagai ‘roh-roh yang di dalam penjara’.
 
Jadi, ayat ini tidak mengajarkan bahwa Yesus turun ke Hades / dunia orang mati dan melakukan penginjilan terhadap orang mati!
 
3.   Maz 16:10 - “sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan”.
Kata ‘menyerahkan’ merupakan terjemahan yang salah.
RSV: ‘give ... up’ (= menyerahkan). Ini sama salahnya!
KJV: ‘leave’ (= meninggalkan).
NIV/NASB: ‘abandon’ (= meninggalkan).
Catatan: kesalahan yang sama juga terjadi dalam Kis 2:27, yang merupakan kutipan dari Maz 16:10 ini. Tetapi anehnya dalam Kis 2:31b, yang juga merupakan kutipan dari Maz 16:10, terjemahan Kitab Suci Indonesia benar.
Orang-orang tertentu menafsirkan bahwa Maz 16:10 / Kis 2:27 menunjukkan bahwa ‘Roh / jiwa Kristus ada di neraka / HADES sebelum kebangkitanNya’. Tetapi ini jelas merupakan penafsiran yang salah, karena apa yang diajarkan oleh ayat ini hanyalah bahwa ‘Kristus tidak dibiarkan dalam kuasa maut / kuburan’. Bandingkan dengan Kis 2:27-31 dan Kis 13:34-35 dimana Maz 16:10 ini dikutip untuk membuktikan kebangkitan Kristus. Jadi, kata SHEOL dalam Maz 16:10 dan kata Hades dalam Kis 2:31 (kedua-duanya diterjemahkan ‘dunia orang mati’), kedua-duanya harus diartikan sebagai ‘kuburan’ atau ‘keadaan kematian’. Baik dalam Maz 16:10 maupun Kis 2:31, NIV menterjemahkan dengan kata ‘grave’ (= kuburan).
Jadi lagi-lagi terlihat bahwa ayat inipun tidak ada hubungannya dengan turunnya Kristus ke HADES / neraka.
 
b)   Ada bermacam-macam penafsiran tentang kata-kata ‘turun ke HADES / kerajaan maut’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli ini:
1.   Berdasarkan arti dari kata HADES di atas, dimana HADES bisa menunjuk pada ‘keadaan kematian’ atau ‘kuburan’, maka ada orang yang beranggapan bahwa ‘turun ke HADES’ berarti ‘turun ke dalam keadaan kematian’ atau ‘turun ke kuburan’.
 
Keberatan terhadap penafsiran ini:
Penafsiran ini tak cocok dengan kontex dari 12 Pengakuan Iman Rasuli. Dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli itu sudah dikatakan bahwa Kristus ‘menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan’. Kalau kalimat selanjutnya yaitu ‘turun ke dalam neraka / kerajaan maut’ diartikan sebagai ‘turun ke dalam keadaan kematian’ atau ‘turun ke kuburan’, maka ini merupakan suatu pengulangan yang tidak perlu. Lebih dari itu, kalimat yang tadinya sudah jelas, sekarang diulangi secara kabur / tidak jelas.
 
2.   Ada juga yang beranggapan bahwa Kristus benar-benar turun ke neraka untuk mengalami siksaan neraka untuk menebus dosa kita.
 
Keberatan terhadap penafsiran ini:
 
·        antara kematian dan kebangkitanNya, tubuh Kristus ada dalam kuburan dan roh / jiwaNya ada di surga (Luk 23:43,46). Karena itu, baik tubuh maupun jiwa / roh dari manusia Yesus Kristus tidak mungkin turun ke neraka untuk mengalami siksaan neraka tersebut.
 
·        sesaat sebelum kematianNya, Yesus berkata ‘Sudah sele­sai’ (Yoh 19:30). Ini menunjukkan bahwa penderitaan aktifNya untuk menanggung hukuman dosa umat manusia sudah sele­sai. Kalau ternyata Ia masih harus turun ke neraka dan memikul hukuman kita lagi di dalam neraka, maka seharusnya tadi Ia berteriak ‘Belum selesai’, bukannya ‘Sudah selesai’.
 
3.   Roma Katolik:
 
Sesudah mati, Kristus pergi ke LIMBUS PATRUM (= tempat penantian dimana orang-orang suci jaman Perjanjian Lama menantikan kebangkitan Kristus), menyampaikan Injil kepada mereka dan lalu membawa mereka ke surga.
 
Dasar Kitab Suci yang dipakai adalah Maz 107:16  Zakh 9:11.
 
Keberatan terhadap ajaran ini:
 
·        ayat-ayat itu ditafsirkan out of context (= keluar dari kontexnya). Bacalah seluruh kontex dari ayat-ayat itu dan saudara akan melihat bahwa baik Maz 107:16 maupun Zakh 9:11 menunjuk pada pembebasan / pertolongan yang Allah lakukan terhadap orang yang tadinya mengalami penderitaan sebagai hukuman dosa mereka. Jadi, ayat-ayat ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Kristus turun ke neraka / Hades / Limbus Patrum.
 
·        orang suci jaman Perjanjian Lama itu adalah orang percaya; lalu mengapa mesti diinjili lagi?
 
·        ini bertentangan dengan 2Raja 2:11 yang menyatakan bahwa Elia naik ke surga, bukan pergi ke Limbus Patrum.
 
·        apa perlunya Kristus pergi ke sana? Kalau hanya untuk membebaskan mereka, Kristus tidak perlu pergi ke sana. Ia bisa membebaskan mereka dari surga (bandingkan dengan cerita tentang perwira dan Yesus dalam Mat 8:7-10, dimana perwira itu percaya bahwa tanpa datang ke rumahnyapun Yesus bisa menyembuhkan hambanya yang sakit itu).
 
4.   Lutheran:
 
‘Turun ke HADES’ dianggap sebagai tahap pertama dari pemuliaan Kristus. Kristus turun ke HADES untuk menyelesaikan kemenanganNya atas setan dan untuk menyampaikan hukuman mereka.
 
Keberatan terhadap ajaran ini:
 
·        tidak ada dasar Kitab Sucinya.
 
·        pemuliaan Kristus baru dimulai pada saat Kristus bang­kit.
 
·        agak sukar membayangkan bahwa kata ‘turun’ bisa menun­juk pada ‘pemuliaan Kristus’.
 
5.   The church of England:
 
Tubuh Kristus ada di kuburan, tetapi roh / jiwaNya pergi ke HADES, atau, lebih khusus lagi, ke Firdaus, tempat penantian dari roh orang-orang benar dan memberi penjelasan tentang kebenaran.
 
Keberatan terhadap ajaran ini:
 
·        tak ada dasar Kitab Sucinya.
 
·        orang benar yang sudah mati tak perlu diajar lagi.
 
·        Firdaus bukanlah tempat penantian orang benar, tetapi Firdaus jelas adalah surga. Ini sudah saya bahas di depan.
 
6.   Calvin:
 
‘Turun ke neraka’ menunjukkan penderitaan rohani yang dialami oleh Kristus. Calvin berkata bahwa 12 Pengakuan Iman Rasuli itu mula-mula menunjukkan penderitaan Kristus yang terlihat oleh manusia (yaitu menderita, disalibkan, mati, dikuburkan), dan setelah itu 12 Pengakuan Iman Rasuli itu melanjutkan dengan menunjukkan penderitaan Kristus secara rohani, yang tidak terlihat oleh manusia. Ini terjadi pada saat Ia berteriak: ‘ELI, ELI, LAMA SABAKHTANI?’ (Mat 27:46).
 
Dengan demikian jelas bahwa Calvin tidak mempercayai bahwa antara kematian dan kebangkitanNya, Kristus betul-betul turun ke neraka atau HADES atau tempat manapun. Antara kematian dan kebangkitanNya, roh / jiwa dari manusia Yesus pergi ke surga (sesuai dengan kata-kataNya dalam Luk 23:43,46), sedangkan tubuh manusia Yesus ada di kuburan.
 
7.   Ada juga orang Reformed yang menganggap bahwa ‘turun ke neraka / Kerajaan Maut’ berarti bahwa Yesus ada dalam kuasa maut sampai hari yang ke 3.
 
‘Westminster Confession of Faith’, chapter VIII, 4 berbunyi sebagai berikut:
“... was crucified, and died, was buried, and remained under the power of death, yet saw no corruption. On the third day He arose from the dead ...” (= ... disalibkan, dan mati, dan dikuburkan, dan tetap ada di bawah kuasa kematian, tetapi tidak menjadi rusak / busuk. Pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati ...).
 
Sama seperti penafsiran Calvin, pandangan yang inipun tidak mempercayai bahwa Yesus betul-betul turun ke neraka / HADES.
 
Saya sendiri condong pada pandangan Calvin.
 
Ada satu ayat yang kelihatannya menentang apa yang saya ajarkan, yaitu bahwa antara kematian dan kebangkitanNya Yesus naik ke surga. Ayat itu adalah Yoh 20:17, dimana setelah kebangkitanNya, Yesus berkata kepada Maria: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa”.
 
Ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya, Yesus tidak / belum naik ke surga.
 
Penjelasan tentang ayat ini:
 
·        Yoh 20:17 ini tidak boleh ditafsirkan bertentangan dengan Luk 23:43,46 yang jelas menunjukkan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya, Yesus naik ke surga.
 
·        Adalah sesuatu yang tidak masuk akal kalau Yesus melarang Maria memegang (dalam arti menyentuh) Dia, karena dalam Mat 28:9 dan Yoh 20:27 Ia mengijinkan diriNya untuk dipegang. Karena itu, kata ‘memegang’ dalam Yoh 20:17 seharusnya diartikan ‘memegang erat-erat / menahan / nggandoli’. Bandingkan dengan terjemahan NASB yang menga­takan ‘Stop clinging to Me’ (= berhentilah berpegang teguh kepadaKu), dan juga terjemahan NIV yang mengatakan ‘Do not hold on to Me’ (= jangan berpegang erat-erat kepadaKu).
 
·        Selanjutnya, kata-kata ‘Aku belum pergi kepada Bapa’ dalam Yoh 20:17a itu, tidak menunjuk ke belakang pada saat antara kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi menunjuk ke depan pada hari kenaikanNya ke surga. Ini terlihat dengan jelas dari Yoh 20:17b yang berbunyi ‘sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu’, kata ‘pergi’ ini jelas menunjuk pada kenaikanNya ke surga.
 
Jadi kesimpulannya, arti dari Yoh 20:17 adalah: janganlah nggandoli / menahan Aku; Aku tidak bisa selama-lamanya di bumi ini, karena Aku harus pergi kepada Bapa / naik ke surga.
 
Rupa-rupanya Yesus tahu akan isi hati Maria yang begitu mencintai Dia, sehingga ingin menahan Dia terus menerus dan tidak mau berpisah lagi dengan Yesus. Tetapi Yesus tahu bahwa Ia tidak bisa selama-lamanya bersama dengan Maria secara jasmani, karena Ia harus naik ke surga. Karena itulah Ia lalu mengucapkan Yoh 20:17 ini.
 
Dengan demikian jelaslah bahwa Yoh 20:17 ini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya Yesus tidak / belum naik ke surga.
 

3)  Semua manusia akan dihakimi berdasarkan apa yang ia lakukan dalam tubuhnya.

 
2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.
 
Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu, yang diterjemahkan secara berbeda oleh Kitab Suci bahasa Inggris.
 
KJV: ‘in his body’ (= dalam tubuhnya).
 
RSV/NIV/NASB: ‘in the body’ (= dalam tubuh).
 
Dalam bahasa Yunani memang digunakan kata SOMA, yang artinya adalah ‘tubuh’.
 
Ini ayat yang sangat jelas dan kuat dalam persoalan ini. Penghakiman Kristus nanti tergantung hanya pada apa yang dilakukan seseorang dalam hidupnya / dalam tubuhnya, bukan pada apa yang dilakukannya setelah ia mati / ada di luar tubuhnya.
 
Jadi, seandainya penginjilan terhadap orang mati itu memungkinkan untuk dilakukan, dan seandainya orang mati itu bisa bertobat dan percaya kepada Yesus, itu tetap tidak akan diperhitungkan dalam penghakiman akhir jaman. Yang diperhitungkan hanyalah tindakan-tindakannya selama ia berada dalam tubuhnya.
Hal ini terlihat dengan jelas dari cerita tentang Lazarus dan orang kaya dalam Luk 16:19-31. Dalam cerita itu jelas sekali bahwa orang kaya itu menyesal, tetapi penyesalan itu sama sekali tidak berguna, karena itu merupakan tindakan yang terjadi setelah kematiannya / di luar tubuh!
 
Illustrasi: kalau seseorang menghadapi ujian, maka ia mempunyai waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tersebut. Kalau ternyata ia menyia-nyiakan kesempatan itu, dan baru menyesal akan kemalasannya, dan mulai rajin belajar setelah ujian, maka penyesalan dan kerajinannya itu tidak akan mempengaruhi nilai ujiannya, karena semua itu terjadi setelah ujian. Apa yang mempengaruhi nilai ujiannya hanyalah apa yang ia lakukan sebelum ujian!
 
‘Masa belajar’ bagi kita adalah hidup yang sekarang ini. Apapun yang kita lakukan dalam hidup ini mempengaruhi hidup yang akan datang. Tetapi apapun yang kita lakukan setelah kita mati, tidak akan mempengaruhi ‘nilai ujian’ kita!
 
Charles Hodge: “According to the Scriptures and the faith of the Church, the probation of man ends at death” (= Menurut Kitab Suci dan iman Gereja, masa percobaan / ujian manusia berakhir pada kematian) - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 725.
 
Louis Berkhof: “It (Scripture) also invariably represents the coming final judgment as determined by the things that were done in the flesh, and never speaks of this as dependent in any way on what occurred in the intermediate state” [= Itu (Kitab Suci) juga selalu menunjukkan / menggambarkan bahwa penghakiman akhir yang mendatang itu ditentukan oleh hal-hal yang dilakukan dalam daging, dan tidak pernah berbicara tentang hal ini sebagai tergantung dengan cara apapun pada apa yang terjadi dalam intermediate state (keadaan antara kematian dan kebangkitan)] - ‘Systematic Theology’, hal 693.
 
Calvin: “it is an indubitable doctrine of Scripture, that we obtain not salvation in Christ except by faith; then there is no hope left for those who continue to death unbelieving” (= merupakan suatu doktrin / ajaran yang sudah pasti dari Kitab Suci, bahwa kita tidak mendapat keselamatan dalam Kristus kecuali oleh iman; maka tidak ada pengharapan yang tersisa untuk mereka yang terus tidak percaya sampai mati) - hal 113.
 

4)  Kitab Suci menunjukkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil akan binasa / masuk neraka.

 
Mari kita menyoroti beberapa ayat:
 
a)   Yeh 3:18 - “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu”.
 
Bagian akhir ayat ini diterjemahkan secara lebih baik dan lebih hurufiah oleh NIV: ‘I will hold you accountable for his blood’ (= Aku akan menganggap engkau bertanggung jawab untuk darahnya).
 
Kalau memang orang bisa mendengar Injil setelah mati, mengapa Yeh 3:18 itu mengatakan:
 
·        bahwa orang itu mati dalam kesalahan / dosa?
 
·        bahwa Tuhan akan menuntut pertanggungan jawab tentang darah orang itu kepada kita yang tidak memperingatkan orang itu?
 
b)   Ro 2:12 - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.
 
Kalau orang yang tidak mempunyai hukum Taurat dikatakan ‘akan binasa tanpa hukum Taurat’ (artinya ia tidak akan dihakimi berdasarkan hukum Taurat, tetapi dihakimi berdasarkan suara hati / hati nurani mereka - bdk. Ro 2:14-15. Tetapi mereka tetap akan binasa), maka bisalah disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai Injil atau tidak pernah mendengar Injil akan binasa tanpa Injil (artinya mereka tidak akan dihakimi berdasarkan Injil, tetapi mereka tetap akan binasa).
 
c)   Ro 10:13-15 - “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.
 
Text ini memberikan suatu rangkaian: orang yang berseru kepada Tuhan akan selamat, tetapi bagaimana bisa berseru kalau tidak percaya, dan bagaimana bisa percaya kalau tidak pernah mendengar, dan bagaimana bisa mendengar kalau tidak ada yang memberitakan? Kalau rangkaian ini dibalik, maka akan didapatkan: kalau tidak ada yang memberitakan, maka orangnya tidak bisa mendengar. Kalau orangnya tidak mendengar, ia tidak bisa percaya. Kalau ia tidak percaya, ia tidak bisa berseru. Dan kalau ia tidak berseru maka ia tidak bisa selamat. Jadi kalau tidak ada yang memberitakan Injil kepadanya, ia tidak bisa selamat!
 
Jadi, semua ayat-ayat di atas ini menunjukkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil akan mati dalam dosanya. Dan 3 ayat ini merupakan jawaban saya atas kata-kata sembrono dari Andereas Samudera di bawah ini.
Andereas Samudera: “Mereka yang kukuh mengatakan bahwa Injil hanya untuk orang hidup saja dan tak ada kesempatan lagi bagi mereka di alam maut, tak bisa mendukung pendapatnya dengan satu ayatpun!” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 50.
 

5)  Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa tidak mungkin ada penginjilan dalam dunia orang mati.

 
Ayub 7:9-10 - “Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya”.
 
Pengkhotbah 9:5-6 - “Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari”.
 
Kedua ayat di atas ini jelas sekali bertentangan dengan pandangan bahwa roh orang mati masih bisa gentayangan dalam dunia ini, merasuk orang hidup dan sebagainya, seperti yang diajarkan oleh Andereas Samudera.
 
Maz 88:11-13 - “Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepadaMu? Sela. Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaanMu di tempat kebinasaan? Diketahui orangkah keajaiban-keajaibanMu dalam kegelapan, dan keadilanMu di negeri segala lupa?”.
 
Yes 38:18-19 - “Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepadaMu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti akan kesetiaanMu. Tetapi hanyalah orang yang hidup, dialah yang mengucap syukur kepadaMu, seperti aku pada hari ini; seorang bapa memberitahukan kesetiaanMu kepada anak-anaknya”.
 
Kedua ayat di atas ini menunjukkan bahwa tidak mungkin ada penginjilan terhadap orang mati.
 
Tetapi rupa-rupanya ayat-ayat ini sudah diantisipasi oleh Andereas Samudera, dan ia memberikan jawaban terhadap 3 dari 4 ayat di atas.
 
a)   Tentang Ayub 7:9-10.
 
Andereas Samudera: “Kitab Ayub adalah kitab tertua dari kumpulan Alkitab kita. Kitab ini sudah ada sebelum Musa mulai menuliskan kelima kitab Tauratnya. Jaman Ayub hidup, belum pernah terjadi mujizat-mujizat kebangkitan orang mati seperti jaman Elia dan Elisa. Jangan heran bila Ayub membuat pernyataan tentang dunia orang mati seperti ini:
Ayub 7:9-10 - Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.
Ayat ini sering jadi pedoman bagi mereka-mereka yang menolak kenyataan bahwa orang-orang mati suka datang menampakkan diri kepada orang hidup, terutama kepada kerabat dekatnya.
Kitab Ayub pasti ditulis oleh seorang penulis yang melihat di dunia roh, karena ia tahu dengan tepat apa yang terjadi di atas sana, ketika Tuhan bercakap-cakap dengan Setan untuk mengikhtiarkan malapetaka Ayub yang berturut-turut. Tetapi Ayub sendiri tak menyadari apa yang terjadi di atas sana. Akibatnya ia bertele-tele dan berbantah-bantah dengan ketiga temannya: Elifas, Bildad dan Zofar, sampai berpasal-pasal, yakni dari pasal 4 sampai dengan pasal 37 - tiga puluh empat pasal banyaknya - berbicara tentang nasibnya, perbuatan Allah, tuduh-menuduh dan membela dirinya berlarut-larut.
Pada akhirnya ketika Tuhan menampakkan diriNya di dalam badai di hadapan Ayub, (Ayub pasal 38 sd. 42), terpaksa Ayub menarik semua perkataannya.
Ayub 42:1-6 - Maka jawab Ayub kepada TUHAN: ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal. FirmanMu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. FirmanMu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu. (garis bawah dari Andereas Samudera)
Jadi nyata bahwa penulis kitab Ayub menuliskan kisah seorang yang menderita karena tindakan-tindakan di alam roh yang dikerjakan setan atas persetujuan Allah dan menggambarkan bagaimana reaksi orang itu bila tak tahu apa yang terjadi di alam roh. Kata-kata Ayub tentang dunia roh bukan referensi yang dapat anda pakai untuk mengenal alam roh dengan benar. Akhirnya Ayub mengaku di hadapan Tuhan bahwa ia telah bercerita tentang hal-hal yang ia sendiri tak ketahui dan mencabut semua perkataannya dihadapan Allah. Kalau Ayub mencabutnya, jangan sekali-kali anda memegangnya sebagai pedoman! Pasti salah juga!” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 102-103.
 
Jawaban balik dari saya:
1.   Ada kemungkinan bahwa Kitab Ayub ditulis oleh Ayub sendiri.
Andereas Samudera secara sembarangan membedakan Ayub dan penulis kitab Ayub, dengan alasan bahwa Ayub tidak tahu apa yang terjadi di alam roh, sedangkan penulis kitab Ayub itu mengetahui semua itu. Tetapi tidak mungkinkah bahwa Ayub sendiri, yang mula-mula memang tidak tahu akan apa yang terjadi antara Tuhan dan setan, belakangan mengetahui hal itu atau diberi tahu oleh Tuhan tentang hal itu dan lalu menuliskannya?
Memang harus diakui bahwa para penafsir tidak bisa memastikan siapa penulis kitab Ayub ini, dan bahkan ada yang memastikan bahwa penulisnya bukanlah Ayub sendiri. Tetapi ada juga yang menganggap bahwa Ayublah penulis kitab Ayub ini, seperti yang ditunjukkan oleh kutipan-kutipan di bawah ini.
Barnes’ Notes: “Lowth, Magee, Prof. Lee. and many others, regard it as the work of Job himself. ... Herder ... supposes that it was written by some ancient Idumean, probably Job himself” (= Lowth, Magee, Prof. Lee. dan banyak yang lain, menganggapnya sebagai pekerjaan Ayub sendiri. ... Herder ... menganggap bahwa kitab ini ditulis oleh seorang Idumea kuno, mungkin Ayub sendiri) - hal xv-xvi (Introduction).
Albert Barnes sendiri (penulis dari Barnes’ Notes) setelah membahas panjang lebar tentang siapa penulis dari kitab Ayub ini, akhirnya menyimpulkan sebagai berikut:
“It seems to me, therefore, that by this train of remarks, we are conducted to a conclusion attended with as much certainty as can be hoped for in the nature of the case, that the work was composed by Job himself in the period of rest and prosperity which succeeded his trials” (= Karena itu, terlihat bagi saya, bahwa oleh sederetan komentar / pernyataan ini, kita dipimpin pada suatu kesimpulan yang disertai dengan kepastian sebanyak yang bisa diharapkan dalam kasus seperti itu, bahwa pekerjaan / kitab itu disusun / ditulis oleh Ayub sendiri pada masa istirahat / ketenangan dan kemakmuran yang terjadi setelah pencobaan-pencobaannya) - hal xxvii (Introduction).
Pulpit Commentary: “The most ingenious of the conjectures put forward is that of Dr. Mill and Professor Lee, who think that Job himself put the discourses into a written form, ... the theory of Dr. Mill and Professor Lee, though unproved, is probably the nearest approach to the truth that can be made at the present day” (= Dugaan yang paling cerdik yang diajukan adalah dugaan dari Dr. Mill dan Profesor Lee, yang menganggap bahwa Ayub sendiri yang menjadikan pembicaraan-pembicaraan itu ke dalam suatu bentuk tulisan, ... teori dari Dr. Mill dan Profesor Lee, sekalipun tidak dibuktikan, mungkin merupakan pendekatan yang paling dekat dengan kebenaran yang bisa dibuat pada jaman ini) - hal xvi (Introduction).
Matthew Poole: “The penman of this book is not certainly known, ... But most probably it was either, 1. Job himself, who was most capable of giving this exact account; who as in his agony he wished that his words and carriage were written in a book, chap. 19:23,24, so possibly, when he was delivered from it, he satisfied his own and others’ desires therein. Only what concerns his general character, chap. 1:1, and the time of his death, chap. 42:16,17, was added by another hand; the like small additions being made in other books of Scripture” [= Penulis dari kitab ini tidak diketahui dengan pasti, ... Tetapi yang paling memungkinkan adalah bahwa ia adalah 1. Ayub sendiri, yang paling mampu untuk memberikan laporan / cerita yang tepat / persis / seksama; yang pada waktu ada dalam penderitaannya berharap bahwa kata-kata dan sikapnya dituliskan dalam sebuah kitab (19:23,24), dan karena itu mungkin sekali pada waktu ia sudah dibebaskan darinya, ia memuaskan keinginan dirinya sendiri maupun orang lain dalam hal itu. Hanya apa yang berkenaan dengan sifat-sifatnya secara umum (1:1), dan saat kematiannya (42:16,17), ditambahkan oleh tangan / penulis yang lain; tambahan-tambahan kecil yang serupa juga dibuat dalam kitab-kitab lain dari Kitab Suci] - hal 921.
2.   Kata-kata Ayub dalam Ayub 7:9-10 merupakan suatu hukum yang bersifat umum.
Ayub 7:9-10 - “Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya”.
Kata-kata seperti ini ia ucapkan beberapa kali, seperti dalam:
·        Ayub 10:21 - “sebelum aku pergi, dan tidak kembali lagi, ke negeri yang gelap dan kelam pekat”.
NIV: ‘before I go to the place of no return’ (= sebelum aku pergi ke tempat yang tidak memungkinkan kembali).
·        Ayub 14:12,14 - “demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya. ... Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku”.
·        Ayub 16:22 - “Karena sedikit jumlah tahun yang akan datang, dan aku akan menempuh jalan, dari mana aku tak akan kembali lagi”.
NIV: ‘Only a few years will pass before I go on the journey of no return’ (= Hanya beberapa tahun akan berlalu sebelum aku pergi dalam perjalanan yang tidak memungkinkan untuk kembali).
Semua kata-kata di atas itu ia ucapkan hanya sebagai hukum yang bersifat umum, dan karena itu maka kata-kata itu tidak boleh dihubungkan dengan kebangkitan orang mati, yang merupakan suatu perkecualian. Mengapa? Karena kalau bagian yang bersifat perkecualian dihubungkan dengan ayat-ayat yang berlaku secara umum, maka pasti terjadi kekacauan. Misalnya Ibr 9:27 mengatakan: “manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja”. Ini merupakan hukum yang bersifat umum, atau dengan kata lain, pada umumnya berlaku hukum ini. Ayat ini tidak cocok dengan orang mati yang dibangkitkan, yang tentu saja suatu hari akan mati lagi (untuk keduakalinya). Apakah Andereas Samudera berani mengatakan bahwa penulis surat Ibrani itu juga tidak pernah mendengar tentang kebangkitan orang mati?
3.   Kata-kata Ayub dalam Ayub 7:9-10 tidak berarti bahwa Ayub tidak mempercayai kebangkitan orang mati.
Karena kata-kata Ayub dalam Ayub 7:9-10 itu hanyalah merupakan hukum yang bersifat umum, maka itu sama sekali tidak berarti bahwa Ayub tidak mempercayai bahwa Allah bisa membangkitkan orang mati.
Bandingkan dengan kata-kata Ayub di bawah ini:
·         Ayub 9:5-10 - “Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam murkaNya; yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang; yang memberi perintah kepada matahari, sehingga tidak terbit, dan mengurung bintang-bintang dengan meterai; yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut; yang menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan; yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya”.
Ini menunjukkan bahwa Ayub mempercayai kemahakuasaan Allah, sehingga bisa melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya. Masakan ia tidak percaya bahwa Allah bisa membangkitkan orang mati?
·        Ayub 19:26-27 - “Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikanNya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu”.
Ini jelas menunjukkan kepercayaan Ayub terhadap kebangkitan orang mati! Memang mungkin sekali yang dimaksud di sini adalah kebangkitan orang mati pada akhir jaman. Tetapi kalau Ayub bisa percaya bahwa pada akhir jaman Allah bisa membangkitkan orang mati, mungkinkah ia tidak percaya bahwa pada saat itupun Allah bisa membangkitkan orang mati?
4.   Seseorang tidak harus melihat dahulu baru bisa percaya!
Andereas Samudera mengatakan bahwa Ayub tidak mempercayai kebangkitan orang mati, karena pada jamannya hal itu belum pernah terjadi. Apakah orang yang imannya begitu hebat seperti Ayub harus melihat dahulu baru percaya, sama seperti Tomas (bdk. Yoh 20:24-29)?
Dalam persoalan ini perlu diingat bahwa Abraham, yang jelas juga hidup sebelum ada kebangkitan orang mati, bahkan mungkin sekali sebelum jaman Ayub, bisa percaya akan kebangkitan orang mati, seperti yang dikatakan dalam Ibr 11:17-19 - “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: ‘Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.’ Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali”.
Berbeda dengan Ayub 19:26-27 yang menunjukkan kepercayaan Ayub pada kebangkitan orang mati pada akhir jaman, maka Ibr 11:17-19 menunjukkan kepercayaan Abraham bahwa Allah bisa membangkitkan orang mati pada saat itu. Apakah Ayub tidak bisa beriman seperti Abraham?
Bahkan Elia sendiri, yang merupakan orang pertama yang membangkitkan orang mati, sebetulnya juga tidak pernah tahu ada orang mati dibangkitkan. Mengapa ia bisa berdoa, bahkan saya yakin ia bisa berdoa dengan iman, untuk anak yang mati itu dan meminta supaya Allah membangkitkannya (1Raja 17:20-21)? Demikian juga dengan banyak orang lain yang melakukan mujijat yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti Musa membelah Laut Merah, Musa mengeluarkan air dari batu karang, Yosua merobohkan tembok Yerikho, Yosua menghentikan matahari, dan sebagainya. Mereka melakukan semua itu dengan iman. Mereka bisa beriman padahal sebelumnya belum pernah terjadi hal seperti itu. Mengapa bisa demikian? Karena memang seperti yang dikatakan Ibr 11:1 - “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”.
Jadi sekalipun Ayub hidup pada jaman dimana kebangkitan orang mati belum pernah terjadi, itu tidak harus diartikan bahwa Ayub tidak mempercayai kebangkitan orang mati. Karena itu, Ayub 7:9-10 dan ayat-ayat lain yang serupa yang telah saya kutip di atas, tidak menunjukkan bahwa Ayub tidak mempercayai kebangkitan orang mati.
5.   Seseorang tidak harus melihat dahulu baru kata-katanya bisa benar.
Andereas Samudera menganggap bahwa kata-kata Ayub itu salah karena pada jaman Ayub belum pernah ada kebangkitan orang mati. Dengan kata lain, kalau seseorang belum pernah melihat sesuatu maka kata-katanya tentang sesuatu itu pasti salah. Ini jelas omong kosong, karena ada banyak penulis Kitab Suci yang menuliskan tentang hal-hal yang belum pernah dilihatnya / dialaminya, tetapi karena ia menuliskan di bawah pengilhaman Roh Kudus, maka kata-katanya pasti benar.
Misalnya:
·        2Pet 3:10-13 maupun Ibr 1:10-12 berbicara tentang kehancuran seluruh alam semesta pada akhir jaman (kiamat), dan juga tentang pembaharuan semua itu menjadi langit dan bumi yang baru. Padahal baik Petrus maupun penulis surat Ibrani belum pernah melihat / mengalami kiamat tersebut. Apakah itu berarti bahwa kata-kata mereka pasti salah?
·        1Tes 4:14-17 berbicara tentang kedatangan Yesus yang keduakalinya. Padahal Paulus belum pernah melihat / mengalami hal itu. Apakah itu berarti bahwa kata-katanya pasti salah?
6.   Apakah Ayub mencabut kata-kata dalam Ayub 7:9-10 itu?
Untuk ini ada beberapa hal yang perlu diketahui:
a.   Ayub tidak mencabut semua perkataannya.
Andereas Samudera mengatakan sebanyak 2 x bahwa Ayub mencabut semua perkataannya, padahal:
·        Ayub / Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Ayub mencabut semua perkataannya. Andereas Samudera sendiri yang secara kurang ajar menambahi kata ‘semua’ (perhatikan 2 x kata ‘semua’ yang saya cetak dengan huruf besar dari kata-kata Andereas Samudera di atas), padahal dalam Ayub 42:6 itu hanya dikatakan: ‘aku mencabut perkataanku’ (Catatan: inipun terjemahannya meragukan, bandingkan dengan point b. di bawah). Andereas Samudera seharusnya memperhatikan ancaman dalam Wah 22:18-19 bagi orang yang menambahi Firman Tuhan!
·        di antara kata-kata Ayub dalam sepanjang kitab Ayub, ada kata-kata yang luar biasa hebatnya atau kata-kata yang pasti benar, seperti:
*        Ayub 13:15a - “Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku”. Ini salah terjemahan!
KJV: ‘Though he slay me, yet will I trust in him’ (= Sekalipun Ia membunuh aku, tetapi aku akan percaya kepadaNya).
*        Ayub 14:5 - “Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu padaMu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya”. Ini menunjukkan bahwa umur manusia ditetapkan oleh Tuhan, dan ini sesuai dengan Maz 39:5-6  dan Mat 6:27.
*        Ayub 19:25-26 - “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah”.
*        Ayub 26:6-7 - “Dunia orang mati terbuka di hadapan Allah, tempat kebinasaanpun tidak ada tutupnya. Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan”.
*        Ayub 28:28 - “tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.’”. Ini sesuai dengan Amsal 1:7 dan Amsal 14:16.
Karena itu jelaslah bahwa Ayub tidak mungkin mencabut semua perkataannya.
b.   Terjemahan Ayub 42:6 dalam Kitab Suci Indonesia ini perlu diragukan.
Ayub 42:6 - “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu”.
Kata ‘perkataanku’ sebetulnya tidak pernah ada dalam bahasa aslinya, dan demikian juga dalam terjemahan bahasa Inggris; dan kata ‘mencabut’ diterjemahkan secara berbeda-beda oleh Kitab Suci bahasa Inggris.
NASB: ‘Therefore I retract, And I repent in dust and ashes’ (= Karena itu aku mencabut / menarik kembali, Dan aku bertobat dalam debu dan abu).
KJV: ‘Wherefore I abhor myself, and repent in dust and ashes’ (= Karena itu aku jijik pada diriku sendiri, dan bertobat dalam debu dan abu).
RSV/NIV: ‘therefore I despise myself, and repent in dust and ashes’ (= karena itu aku menganggap rendah / hina diriku sendiri, dan bertobat dalam debu dan abu).
Keil & Delitzsch: ‘Therefore I am sorry, and I repent in dust and ashes’ (= Karena itu aku menyesal, dan aku bertobat dalam debu dan abu) - hal 381.
Barnes’ Notes: “‘Wherefore I abhor myself.’ I see that I am a sinner to be loathed and abhorred. Job, though he did not claim to be perfect, had yet unquestionably been unduly exalted with the conception of his own righteousness, and in the zeal of his argument, and under the excitement of his feelings when reproached by his friends, had indulged in indefensible language respecting his own integrity. He now saw the error and folly of this, and desired to take the lowest place of humiliation. Compared with a pure and holy God, he saw that he was utterly vile and loathsome, and was not unwilling now to confess it. ‘And repent.’ Of the spirit which I have evinced; of the language used in self-vindication; of the manner in which I have spoken of God. Of the general sentiments which he had maintained in regard to the divine administration as contrasted with those of his friends he had no occasion to repent, for they were correct (ver. 8)” [= ‘Karena itu aku benci kepada diriku sendiri’. Aku melihat bahwa aku adalah orang berdosa yang terhadap siapa aku harus jijik dan benci. Ayub, sekalipun tidak mengclaim sebagai orang yang sempurna, tetapi tak diragukan telah terlalu meninggikan diri dengan konsep tentang kebenarannya sendiri, dan dalam semangatnya untuk berargumentasi, dan di bawah gejolak perasaannya pada waktu dicela oleh teman-temannya, telah menuruti hatinya dalam kata-kata yang tidak bisa dipertahankan tentang kelurusannya. Sekarang ia melihat kesalahan dan kebodohan dari hal ini, dan ingin mengambil tempat yang paling rendah. Dibandingkan dengan Allah yang murni dan kudus, ia melihat bahwa ia sepenuhnya kotor dan menjijikkan, dan sekarang ia mau mengakuinya. ‘Dan bertobat’. Bertobat dari sikap yang telah aku tunjukkan; dari kata-kata yang aku gunakan untuk mempertahankan diri; dari cara dalam mana aku berbicara tentang Allah. Tentang perasaan umum yang telah ia pertahankan berkenaan dengan pemerintahan ilahi yang bertentangan dengan pandangan teman-temannya, ia tidak mempunyai alasan untuk bertobat, karena kata-katanya itu benar (ay 8)] - hal 269.
Pulpit Commentary: “He does not retract what he has said concerning his essential integrity, but he admits that his words have been overbold, and his attitude towards God one unbefitting a creature” (= Ia tidak menarik apa yang telah ia katakan mengenai kelurusannya yang hakiki, tetapi ia mengakui bahwa kata-katanya terlalu berani, dan sikapnya terhadap Allah tidak cocok dengan sikap seorang makhluk ciptaan) - hal 662-663.
c.   Ayub 42:7-8 menunjukkan bahwa Tuhan menganggap benar kata-kata Ayub!
Andereas Samudera membacakan Ayub 42 mulai ayat 1, tetapi secara kurang ajar dan tidak bertanggung jawab ia telah memotong pembacaan textnya sampai dengan Ayub 42:6 saja, padahal text selanjutnya, yaitu Ayub 42:7-8, menunjukkan bahwa kata-kata Ayub dianggap benar oleh Tuhan, dan karena itu tidak mungkin ia cabut kembali.
Ayub 42:7-8 - “Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: ‘MurkaKu menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hambaKu Ayub. Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hambaKu Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hambaKu Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hambaKu Ayub.’”.
Tentang kata-kata yang digaris-bawahi ini perhatikan kata-kata Albert Barnes dan Pulpit Commentary di bawah ini.
Barnes’ Notes: “This must be understood comparatively. God did not approve of all that Job had said, but the meaning is, that his general views of his government were just” (= Ini harus dimengerti dalam perbandingan. Allah tidak membenarkan semua kata-kata Ayub, tetapi maksudnya adalah bahwa pandangannya tentang pemerintahanNya secara umum adalah benar) - hal 270.
Pulpit Commentary: “Job had, on the whole, spoken what was right and true of God, and is acknowledged by God as his true servant. The ‘comforters,’ consciously or unconsciously, had spoken what was false” (= Secara keseluruhan Ayub telah mengatakan apa yang benar tentang Allah, dan diakui oleh Allah sebagai hambaNya yang benar. Para ‘penghibur’, secara sadar atau tidak, telah mengatakan apa yang salah) - hal 663.
d.   Ayub 42:3 memang menunjukkan penyesalan Ayub akan kata-kata salah yang ia ucapkan, dan boleh dikatakan ini ia ucapkan untuk menyetujui atau mengaminkan kata-kata Tuhan dalam Ayub 38:2. Tetapi berdasarkan Ayub 42:7-8 yang sudah saya tunjukkan di atas, jelas bahwa ia bukannya menyesali semua kata-katanya, tetapi mungkin hanya:
·        kata-katanya yang bersifat membenarkan diri sendiri (seperti dalam Ayub 27:5  31:1-35).
·        kata-katanya yang menuduh bahwa Allah tidak adil (seperti dalam Ayub 19:6-7  27:2).
·        kata-katanya yang menuduh bahwa Allah membencinya (seperti dalam Ayub 13:24  16:13  19:11  30:20-23).
e.   Tentang kata-kata Ayub dalam Ayub 7:9-10 yang sekarang sedang kita persoalkan, saya tidak melihat dasar apapun untuk mengatakan bahwa kata-kata ini ditarik kembali oleh Ayub! Dan ayat itu menunjukkan bahwa roh orang mati tidak bisa gentayangan di dunia ini, dan ini jelas-jelas bertentangan dengan ajarannya Andereas Samudera. Untuk jelasnya, saya berikan lagi Ayub 7:9-10 - “Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya”.
 
b)   Tentang Maz 88:11-13.
Andereas Samudera: “Daud dalam sakit payahnya berseru-seru dan bertanya kepada Tuhan:
Maz 88:11-13 - Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepadaMu? Sela. Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaanMu di tempat kebinasaan? Diketahui orangkah keajaiban-keajaibanMu dalam kegelapan, dan keadilanMu di negeri segala lupa?
Pada jaman Daud, tidak ada mujizat kebangkitan orang mati terjadi, juga tak ada tukang panggil arwah yang buka praktek karena semua dibasmi oleh Saul, atau sedikitnya tidak ada yang berani terang-terangan memanggil arwah karena dilarang keras oleh Hukum Taurat. Pengetahuan dunia orang mati sedikit sekali yang dikenal oleh Daud. Pengetahuan tentang dunia orang mati itu baru datang setelah Tuhan Yesus memberitahukannya kepada manusia. Jadi Daud mengungkapkan kata-kata dalam Mazmur itu sebagai pertanyaan kepada Tuhan, bukan suatu pemberitahuan untuk anda jadikan pegangan. ‘Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaanMu di tempat kebinasaan?’. Kira-kira seribu tahun kemudian baru pertanyaan ini dijawab oleh Tuhan Yesus:
Yoh 5:25-29 - Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diriNya sendiri, demikian juga diberikanNya Anak mempunyai hidup dalam diriNya sendiri. Dan Ia telah memberikan kuasa kepadaNya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suaraNya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 104-105.
 
Jawaban balik dari saya:
 
1.   Siapa bilang yang menulis Mazmur ini adalah Daud? Perhatikan Maz 88:1, yang menunjukkan bahwa penulisnya bernama Heman.
2.   Ini bukan pertanyaan kepada Tuhan, tetapi argumentasi dalam doa.
Sekalipun kata-kata pemazmur ini ada dalam bentuk pertanyaan, tetapi ia sama sekali tidak memaksudkannya sebagai pertanyaan kepada Tuhan. Sebaliknya, ia menggunakan kata-kata ini sebagai argumentasi supaya Tuhan menolong dia, yang sudah ada dalam keadaan sakit berat (baca sendiri ay 2-10).
Perhatikan sekali lagi text itu.
Maz 88:11-13 - “(11) Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepadaMu? Sela. (12) Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaanMu di tempat kebinasaan? (13) Diketahui orangkah keajaiban-keajaibanMu dalam kegelapan, dan keadilanMu di negeri segala lupa?”.
·        Sama dengan ayat dalam kitab Ayub di atas, maka yang dikatakan pemazmur dalam ay 11 juga merupakan hal yang bersifat umum, dan tidak boleh dihubungkan dengan kebangkitan orang mati, yang merupakan suatu perkecualian.
Calvin tentang Maz 88:11-13:
“it is a more seasonable time to succour men, whilst in the midst of danger they are as yet crying, than to raise them up from their graves when they are dead. He reasons from what ordinarily happens; it not being God’s usual way to bring the dead out of their graves to be witnesses and publishers of his goodness. ... He speaks only of the ordinary manner in which help is extended by God, who has designed this world to be as a stage on which to display his goodness towards mankind” [= merupakan waktu yang lebih cocok untuk menolong manusia pada waktu mereka masih sedang berteriak di tengah-tengah bahaya, dari pada membangkitkan mereka dari kubur mereka pada saat mereka sudah mati. Ia (pemazmur) berargumentasi dari apa yang umumnya terjadi; karena bukan merupakan cara yang umum / biasa bagi Allah untuk membangkitkan orang-orang mati dari kubur mereka untuk menjadi saksi-saksi dan pemberita-pemberita kebaikanNya. ... Ia (pemazmur) berbicara hanya tentang cara yang umum dimana pertolongan diberikan oleh Allah, yang telah merencanakan dunia ini sebagai panggung untuk menunjukkan kebaikanNya kepada umat manusia] - hal 414-415.
·        Kata-katanya dalam ay 12-13 berhubungan dengan sudut pandangnya. Di sini ia tidak menyoroti kekekalan, tetapi hanya menyoroti kehidupan yang sekarang ini.
Charles Haddon Spurgeon: “True the souls of departed saints render glory to God, but the dejected Psalmist’s thoughts do not mount to heaven but survey the gloomy grave: he stays on this side of eternity, where in the grave he sees no wonders and hears no songs” (= Adalah benar bahwa jiwa-jiwa dari orang-orang kudus yang mati memberikan kemuliaan bagi Allah, tetapi pikiran dari pemazmur yang sedih tidak naik ke surga tetapi melihat kubur yang suram / muram: ia tinggal di sebelah sini dari kekekalan, dimana dalam kubur ia tidak melihat keajaiban dan tidak mendengar nyanyian) - hal 5.
Jadi maksud semua ini adalah: kalau Engkau membiarkan aku mati, Tuhan, aku tidak akan bangkit lagi, dan aku tidak lagi bisa bersyukur ataupun memberitakan kasih / kesetiaan / keajaiban / keadilanMu. Karena itu jangan biarkan aku mati.
3.   Siapa yang mengatakan bahwa kata-kata Yesus dalam Yoh 5:25-29 itu dimaksudkan untuk menjawab kata-kata pemazmur dalam Maz 88:11-13?
Kalau ayat-ayat Kitab Suci dihubung-hubungkan secara sembarangan / tanpa dasar, maka bisa timbul segala macam kekacauan. Misalnya kalau kita menghubungkan Yoh 13:27, Mat 27:5 dan Mat 25:21, maka kita mendapatkan:
“Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: ‘Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.’”.
“Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri”.
“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”.
Jadi, Yesus sendiri yang menyuruh Yudas Iskariot untuk menggantung diri, dan setelah itu Ia memuji tindakan itu sebagai baik dan setia, dan memasukkan Yudas Iskariot ke surga!
 
c)   Tentang Pengkhotbah 9:5-6.
 
Andereas Samudera: “Juga hati-hati sekali mempergunakan kata-kata Salomo dalam mengenal dunia roh. Waktu Tuhan berbicara kepadanya dalam mimpi di Gibeon, antara lain Ia berfirman:
1Raja 3:11-12 - Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: ‘Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau ...’
Salomo adalah seorang yang penuh hikmat dan pengertian, tak seorangpun sesudah dia akan bangkit lagi seperti dia, kata Firman Tuhan! Tetapi ketika Yesus Kristus datang kedunia, Ia sendiri berkata: Mat 12:42 - ... dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Bagaimana Alkitab anda ini? Satu kali ia berkata takkan bangkit seorangpun seperti Salomo, di lain pihak ia bilang ada lagi yang lebih besar dari Salomo! Ketahuilah, Alkitab tak berbuat curang kepada anda. Salomo memang orang paling bijak di bawah kolong langit ini. Tetapi Tuhan Yesus bukan berasal dari bawah kolong langit ini. Ia datang dari atasnya langit! Bila anda membaca kitab-kitab Salomo, pelajari hal-hal penting untuk hidup pergaulan anda dengan sesama dan dengan Tuhan, anda dapat belajar banyak darinya, tetapi bila sampai kedaerah alam roh, Salomo tidak lagi dapat diandalkan sebagai guru yang benar. Hal-hal di atas langit ia tak tahu banyak. Kita harus belajar dari Dia yang datang dari alam roh yang Mahakudus itu. Perhatikan contohnya dalam ayat berikut.
Pengkhotbah 9:5-6 - Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.
Kata Salomo orang mati tak tahu apa-apa: kasih, kebencian, cemburu mereka sudah hilang! Tetapi Tuhan Yesus mengungkapkan cerita lain di alam maut. Orang kaya yang mati setelah Lazarus, ternyata merasa menderita di alam maut, dan ia mengekspresikan penderitaannya kepada bapa Abraham di atas sana. Jadi masih ada perasaan-perasaan di alam maut! Ketika harapannya agar Lazarus turun ketempatnya untuk memberi setetes air membasahi lidahnya tak terkabul, ia minta agar Lazarus dikirim kembali kedunia untuk memberitahu saudara-saudaranya agar tidak turun ke alam maut itu. Jadi masih ada pikiran-pikiran baik, masih ada kasih persaudaraan dan pengharapan di alam maut. Jadi kalau Salomo bilang bahwa orang mati tak ada bahagiannya lagi dalam segala sesuatu di bawah matahari, ia hanya memandang itu dari segi badaniah saja. Memang orang mati tak bisa apa-apa lagi di antara orang hidup secara badani. Kenyataan bahwa roh orang mati dapat mempengaruhi orang hidup, tak terselidiki oleh Salomo, karena ia tak memiliki jenis urapan yang diperlukan untuk mengenal dunia orang mati. Urapan Salomo adalah urapan hikmat untuk manusia dibawah kolong langit!” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 105-107.
 
Andereas Samudera: “Jadi kitab Salomo, Mazmur dan kitab Ayub tak dapat dijadikan referensi yang tepat untuk menyelidiki dunia orang mati” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 107.
 
Jawaban balik dari saya:
1.   Pengkhotbah 1:1 hanya mengatakan: “Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem”. Tidak dikatakan bahwa penulisnya adalah Salomo. Memang ada pro dan kontra tentang apakah penulisnya adalah Salomo atau bukan. Pulpit Commentary setelah membahas pro dan kontra ini secara panjang lebar, akhirnya menyimpulkan: “From these premises it must be concluded that the Solomonic authorship cannot be maintained, and that the book belongs to a much later epoch than that of Solomon” (= Dari alasan-alasan ini harus disimpulkan bahwa pandangan yang mengatakan bahwa pengarangnya adalah Salomo tidak bisa dipertahankan, dan bahkan kitab ini ditulis pada jaman setelah Salomo) - hal xii.
2.   Dari kata-kata Andereas Samudera di atas, kelihatannya bukan cuma Tuhan Yesus yang lebih besar dari Salomo. Andereas Samudera juga lebih besar dari Salomo, karena ia tahu apa yang Salomo tidak tahu. Dan Andereas Samudera bukan berasal dari atasnya langit. Dan kalau Andereas Samudera juga lebih besar dari Salomo, maka kata-kata dari 1Raja 3:12 (‘sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau’) itu tetap salah.
3.   Sebetulnya apa artinya kata-kata ‘sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau’ dalam 1Raja 3:12?
Ungkapan seperti ini sering digunakan dalam Perjanjian Lama, seperti dalam Kel 10:14  Kel 11:6  Ul 34:10  2Raja 18:5  2Raja 23:25  2Taw 1:12  2Taw 9:9  Yes 43:10  Yeh 16:16  Yoel 2:2 dan sebagainya. Mari kita soroti 2 diantaranya, yaitu 2Raja 18:5 dan 2Raja 23:25.
Dalam 2Raja 18:5 ada pujian untuk kesalehan raja Hizkia, dimana dikatakan bahwa: ‘di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia’. Tetapi anehnya, dalam 2Raja 23:25 ungkapan yang sama dikatakan tentang raja Yosia - “Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia”.
Kalau kita mau menafsirkan apa adanya, maka 2 ayat ini akan bertentangan. Jadi, rupanya ungkapan ini dipakai bukan dalam arti hurufiah, tetapi hanya untuk menekankan saja. Dalam kasus raja Hizkia dan Yosia maksudnya adalah bahwa kedua raja itu mempunyai kesalehan yang luar biasa; sedangkan dalam kasus Salomo dalam 1Raja 3:11-12 itu maksudnya adalah bahwa Salomo adalah orang yang sangat berhikmat. Kalau ia memang adalah orang yang paling berhikmat, mengapa pada akhir hidupnya kerohaniannya berantakan (1Raja 11)?
Tetapi kalaupun kita menganggap bahwa 1Raja 3:12 itu betul-betul menunjukkan bahwa Salomo adalah orang yang paling berhikmat, tidak ada yang aneh kalau Yesus lalu mengatakan bahwa Ia lebih besar dari Salomo, karena Ia memang adalah Allah dan manusia.
4.   Andereas Samudera adalah orang yang merendahkan Kitab Suci / Firman Tuhan! Untuk menunjukkan hal ini saya mengutip ulang kata-kata Andereas Samudera: “Bila anda membaca kitab-kitab Salomo, pelajari hal-hal penting untuk hidup pergaulan anda dengan sesama dan dengan Tuhan, anda dapat belajar banyak darinya, tetapi bila sampai kedaerah alam roh, Salomo tidak lagi dapat diandalkan sebagai guru yang benar. Hal-hal di atas langit ia tak tahu banyak. Kita harus belajar dari Dia yang datang dari alam roh yang Mahakudus itu” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 106.
Ada 2 hal yang perlu disoroti dari kata-katanya ini:
a.   Kata-kata Andereas Samudera tentang Ayub, Daud dan Salomo betul-betul merendahkan Kitab Suci. Kalau apa yang mereka tuliskan itu semua salah, karena mereka tidak mengenal dunia roh, lalu bagian mana dari Kitab Suci yang bisa kita percayai? Kata-kata Andereas Samudera ini secara otomatis juga sangat merendahkan pengilhaman Roh Kudus yang menguasai dan memimpin penulis Kitab Suci dalam menuliskan Firman Tuhan! Apakah Andereas Samudera menganggap bahwa Kitab Suci itu hanyalah pikiran dari manusia yang menuliskannya?
Perlu diketahui bahwa ada perbedaan antara kitab Ayub dengan kitab Pengkhotbah / Mazmur. Kitab Ayub sebagian besar berisikan pembicaraan antara Ayub dan teman-temannya, dan Kitab Suci hanya mencatat secara akurat kata-kata mereka, tanpa memberikan persetujuan terhadap kata-kata itu. Jadi kata-kata mereka bisa benar ataupun salah. Tetapi kitab Mazmur dan Pengkhotbah berisikan ajaran, bukan pembicaraan. Dan ini datang dari Tuhan, bukan sekedar dari orangnya. Karena itu, ini pasti benar. Bandingkan dengan 2 ayat di bawah ini:
·        2Pet 1:20-21 - “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”.
·        1Kor 2:13 - “Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh”.
b.   Andereas Samudera seolah-olah meninggikan Yesus tetapi merendahkan Kitab Suci.
Saya tahu ada banyak nabi palsu dari golongan Liberal, yang mempunyai kemunafikan yang serupa dengan Andereas Samudera dalam persoalan ini.
Kita tidak bisa meninggikan Yesus dan pada saat yang sama merendahkan Kitab Suci, karena Kitab Suci adalah Firman Tuhan sendiri! Mungkinkah kita bisa menghormati seseorang tetapi merendahkan kata-katanya?
John Murray memberikan komentar tentang seorang teman sejawatnya yang bernama E. J. Young, yang memang bertekun mempertahankan otoritas Kitab Suci mati-matian, dengan kata-kata sebagai berikut: “He knew nothing of an antithesis between devotion to the Lord and devotion to the Bible. He revered the Bible because he revered the Author” (= Ia tidak mengenal pertentangan antara kesetiaan / pembaktian diri terhadap Tuhan dan kese­tiaan / pembaktian diri terhadap Alkitab. Ia menghormati Alkitab karena ia menghormati Pengarangnya) - ‘In the Beginning’, hal 9.
Kata-kata ini pasti tidak cocok sama sekali untuk Andereas Samudera.
5.   Kata-kata dari Pengkhotbah 9:5-6 itu tidak salah.
Pengkhotbah 9:5-6 - “Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari”.
Mengapa saya katakan tidak salah? Karena, sama seperti ayat dari kitab Mazmur di atas, maka dalam ayat ini penulis kitab Pengkhotbah ini memang membatasi pengamatannya hanya pada dunia ini.
Barnes’ Notes: “The last clause of v. 6 indicates that the writer confines his observations on the dead to their portion in, or relation to, this world” [= Anak kalimat terakhir dari ay 6 (lihat bagian yang saya garis bawahi) menunjukkan bahwa sang penulis membatasi pengamatannya tentang orang mati pada bagian mereka dalam dunia ini atau berhubungan dengan dunia ini] - hal 107.
Bahwa penulis kitab Pengkhotbah sering berbicara / menulis sambil membatasi pengamatannya pada dunia ini saja terlihat ayat-ayat yang saya kutip di bawah ini:
·        Pengkhotbah 1:2 - “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia”.
·        Pengkhotbah 1:14 - “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin”.
·        Pengkhotbah 4:2-3 - “Oleh sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia dari pada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup. Tetapi yang lebih bahagia dari pada kedua-duanya itu kuanggap orang yang belum ada, yang belum melihat perbuatan jahat, yang terjadi di bawah matahari”.
·        Pengkhotbah 5:14 - “Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya”.
·        Pengkhotbah 9:10 - “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati [Ibrani: SHEOL; NIV: ‘grave’ (= kuburan)], ke mana engkau akan pergi”.
Tetapi kadang-kadang penulis kitab Pengkhotbah ini juga berbicara / menulis sambil melihat pada kekekalan, seperti:
¨       Pengkhotbah 11:9 - “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!”.
¨       Pengkhotbah 12:1-7 - “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: ‘Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!’, sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan, pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur, dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicauan burung, dan semua penyanyi perempuan tunduk, juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan, pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi - karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap berkeliaran di jalan, sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur, dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”.
Berkenaan dengan Pengkhotbah 9:5-6 itu, penulis kitab Pengkhotbah ini tidak mungkin betul-betul mempunyai pandangan bahwa tidak ada upah bagi orang mati (lihat bagian yang saya cetak miring dari Pengkhotbah 9:5-6 di atas), karena:
*        dalam Pengkhotbah 3:17 ia berkata: “Berkatalah aku dalam hati: ‘Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.’”.
*        ia sendiri mengakhiri kitab Pengkhotbah itu dengan kata-kata “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (Pengkhotbah 12:13-14).
6.   Andereas Samudera berkata bahwa kebangkitan orang mati baru terjadi pada jaman Elia, dan karena itu maka kata-kata Ayub, Daud, dan Salomo tidak bisa dipakai untuk mengerti dunia roh / alam roh. Kalau demikian, mengapa Andereas Samudera sendiri menggunakan Im 20:27 dan Ul 18:9-14 untuk mengatakan bahwa arwah bisa merasuk orang hidup ataupun dipanggil untuk dimintai petunjuk? Bukankah kedua text tersebut dituliskan oleh Musa, yang juga hidup sebelum jaman Elia? Dan karena itu bukankah kata-katanya juga tidak bisa dipakai untuk mengerti dunia roh / alam roh? Dari sini terlihat sekali ketidak konsistenan Andereas Samudera, yang menerapkan standard ganda!
 
d)   Tentang Yes 38:18-19.
 
Andereas Samudera tidak mengantisipasi ayat ini, dan saya menantangnya untuk melakukannya.
 
Andereas Samudera mengatakan bahwa Ayub tidak mengetahui apa yang terjadi di dunia roh, tetapi penulis kitab Ayub mengetahuinya, dan itu membuktikan bahwa ia adalah orang yang mengenal dunia roh (‘Dunia Orang Mati’, hal 102). Kalau kata-kata Andereas Samudera ini sekarang dihubungkan dengan Yesaya, maka Yesaya harus dianggap sebagai orang yang mengenal dunia roh, karena Yesaya mendapatkan penglihatan tentang Tuhan.
 
Yes 6:1-3 - “Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahNya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atasNya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: ‘Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya!’”.
 
Tetapi Yesaya yang mengenal dunia roh ini ternyata menuliskan: “Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepadaMu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti akan kesetiaanMu. Tetapi hanyalah orang yang hidup, dialah yang mengucap syukur kepadaMu, seperti aku pada hari ini; seorang bapa memberitahukan kesetiaanMu kepada anak-anaknya” (Yes 38:18-19).
Memang kata-kata ini sebetulnya diucapkan oleh Hizkia (Yes 38:9), tetapi lalu dicatat oleh Yesaya, dan Yesaya tidak menyalahkannya / meralatnya. Dan baik Yesaya maupun Hizkia hidup setelah jaman Elia dan Elisa, sehingga mereka tentu sudah tahu tentang kebangkitan orang mati yang dilakukan oleh Elia dan Elisa.
 

6)  Penginjilan terhadap orang mati mengharuskan doa untuk orang mati.

 
Penginjilan tidak akan berhasil tanpa doa. Kalau kita harus memberitakan Injil kepada orang mati, berarti kita juga harus mendoakan orang mati.
 
Bandingkan dengan 1Yoh 5:16 - “Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa”.
 
Ayat ini mengatakan bahwa kalau ada seorang yang melakukan dosa yang membawa maut (mungkin yang dimaksud adalah dosa menghujat Roh Kudus yang tidak bisa diampuni - bdk. Mat 12:31-32), maka kita tidak perlu berdoa untuk orang itu. Lalu bagaimana mungkin sekarang kita harus berdoa untuk orang yang sudah ada di dalam maut?
 

7)  Adanya penginjilan terhadap orang mati menghancurkan sifat urgent (= mendesak) dari pertobatan dan penginjilan.

 
Serangan ini rupanya sudah diperhitungkan oleh Andereas Samudera, yang memberikan jawaban sebagai berikut:
 
a)   Orang harus percaya sekarang, karena kalau baru percaya kepada Yesus di dunia orang mati, maka sekalipun ia diselamatkan tetapi ia tidak mendapatkan pahala apapun.
 
Andereas Samudera: “Mendengar bahwa di alam maut Injil masih diberitakan, ada orang berpikir begini: Kalau begitu selama hidup di dunia ini tak usah bertobat, hidup saja menurut hawa nafsu sepuas-puasnya lalu nanti bertobat di alam maut saja, bukankah lebih untung? Tidak, sama sekali tidak untung! Sebaliknya orang bodoh saja yang mau demikian. Sementara kita hidup di dunia, Ia memanggil kita masuk ke dalam KerajaanNya untuk bekerja dalam kebun anggurNya. Ada upah menantikan anda dan saya. Mahkota-mahkota tersedia di surga. Kemuliaan sebagai pengantin Anak Domba disediakan bagi anda yang bekerja dalam kuasa Roh Kudusnya di atas muka bumi ini. Barang siapa yang menang akan didudukkanNya di atas takhtaNya di surga (Wah 3:21). Mereka yang diselamatkan dari alam maut, tidak dapat disebut sebagai pemenang-pemenang, tetapi sekedar sebagai puntung yang diselamatkan dari api neraka. Mana anda pilih, jadi pengantin Anak Domba itu atau sekedar beroleh selamat dari api neraka?” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 67.
 
Andereas Samudera: “Bila seseorang mendengar Injil dan membuka hatinya, ia menerima anugerah keselamatan dari Allah. Ia menerima meterai tanda jaminan bahwa ia lolos dari api neraka. Bila ia mati segera setelah menerima Yesus, Ia tetap akan diselamatkan dan dibawa malaikat ke sorga. Tapi jelas ia tak akan menerima pahala apapun di surga karena tak sempat melayani Kerajaan Tuhan Yesus. Bila ia tidak mati tetapi hidup panjang umur di bumi, ia boleh masuk pelayanan Kerajaan Kristus dan mengumpulkan pahalanya untuk kerajaan Seribu Tahun kelak. Mereka yang tak sempat mendengar Injil lalu mati, mungkin di alam maut mendengar Injil dan diselamatkan, tetapi ia tak mempunyai kesempatan untuk mengerjakan apa-apa bagi Kerajaan Yesus. Jadi ia hanya menerima anugerah keselamatan tetapi tidak mendapat kesempatan untuk menerima anugerah kemuliaan seorang hamba Tuhan” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 100-101.
 
b)   Kita harus tetap memberitakan Injil sekarang, karena itu merupakan pekerjaan terhormat dan karena Yesus hendak mendirikan kerajaanNya di antara orang-orang hidup.
 
Andereas Samudera: “Bila orang mati di alam maut masih boleh mendengar Injil dan dapat diselamatkan, buat apa susah-susah kita sekarang mengabarkan Injil? Bukankah di sana orang-orang itu akan menyesal sendiri dan akan dengan lebih mudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat bila Injil itu diberitakan kepada mereka?
Bagi kita yang sudah diselamatkan olehNya, sekarang tugas memberitakan Injil adalah tugas kehormatan, ‘a privilege’. Allah telah menyediakan tugas kehormatan ini bagi anda sejak sebelum dunia dijadikan. Ia ingin anda menjadi penyambung lidah Allah untuk menyampaikan berita baik yang berabad-abad tersimpan di dalam lubuk hati Allah ini. Manusia telah terkesan amat dalam bahwa Allah itu keras dan kejam karena hukuman-hukumanNya kepada orang berdosa di masa Perjanjian Lama. Kini Ia ingin seluruh ciptaan di alam roh juga, bahwa Allah kita yang sejati itu tidak demikian. Ia amat lembut dan penuh kasih dan anugerah! ... Sungguh berbahagialah anda yang mengetahui bahwa menjadi Pengabar Injil adalah menjadi pelayan kehormatan yang membawa anugerah, tanpa sedikitpun harus dikejar-kejar perasaan bersalah. Anda diberi kehormatan dari sang Bapa sendiri karena pekerjaan pemberitaan Injil ini, sekalipun akan disertai dengan aniaya. ... Jadi mengapa kita tetap harus memberitakan Injil sementara hidup di dunia ini?
Pertama-tama karena itu adalah pekerjaan terhormat yang disediakan bagi anda oleh Bapa agar anda beroleh kehormatan dari padaNya. Kedua karena Yesus hendak mendirikan kerajaanNya di atas muka bumi ini di antara orang-orang yang hidup. Itu sebabnya Ia memberi otoritas besar sekali kepada GerejaNya di atas bumi. Anda yang memberitakan Injil sekarang akan ikut memerintah bersama Dia kelak dalam Kerajaan Seribu Tahun.” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 98-99.
 
Jawaban balik dari saya:
 
·        dalam persoalan pertobatan / penerimaan Yesus sebagai Juruselamat.
Dengan ajaran yang umum saja, dimana dikatakan bahwa pertobatan hanya bisa terjadi dalam hidup ini, masih ada banyak orang yang ingin menunda pertobatan, atau bahkan sama sekali tidak mau bertobat, karena mereka ingin menikmati keduniawian dan dosa. Contoh: pemuda kaya yang datang kepada Yesus (Mat 19:16-24). Apalagi kalau mereka mempercayai ajaran Andereas Samudera yang mengatakan bahwa dalam dunia orang mati masih ada kesempatan untuk bertobat. Sudah pasti mereka tidak akan bertobat sekarang. Mereka tidak akan peduli dengan keadaan tanpa pahala di surga.
 
·        dalam persoalan penginjilan juga tidak berbeda dengan dalam persoalan pertobatan.
 
Dengan ajaran yang umum saja, banyak sekali orang Kristen yang menunda penginjilan, dengan alasan malu, takut, sungkan, dan sebagainya. Apalagi kalau orang-orang kristen mempercayai ajaran Andereas Samudera; sudah pasti mereka akan makin tidak memberitakan Injil.
 
Kesimpulan:
 
Sekalipun jawaban Andereas Samudera dalam persoalan ini tidak salah, dan dengan demikian sifat urgent / mendesak dari pertobatan dan penginjilan itu tidak hilang total, tetapi bagaimanapun sifat urgent / mendesak dari pertobatan dan penginjilan akan sangat berkurang.
 

8)  Ada ayat-ayat Kitab Suci yang melarang mengadakan kontak dengan orang mati .

Ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat di bawah ini:
·        Im 20:6 - “Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya”.
·        Ul 18:9-12 - “Apabila engkau sudah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau belajar berlaku sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu. Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu”.
·        Yes 8:19-20 - “Dan apabila orang berkata kepada kamu: ‘Mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan komat-kamit,’ maka jawablah: ‘Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada allahnya? Atau haruskah mereka meminta petunjuk kepada orang-orang mati bagi orang-orang hidup?’ ‘Carilah pengajaran dan kesaksian!’ Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar”.
Sekarang perhatikan bagaimana Andereas Samudera menghindari serangan dari ayat-ayat ini.
Andereas Samudera: “Ul 18:10-14 - Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang ....... bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN ...........
Perhatikan bahwa yang dilarang oleh Tuhan adalah meminta petunjuk dan bertanya kepada arwah, jadi tidaklah menjadi masalah bila anda memberi petunjuk atau memerintah kepada arwah. Sama halnya dengan setan-setan, kita tidak diijinkan untuk meminta petunjuk atau bertanya / mendapat petunjuk dari setan, tetapi tak jadi masalah bila kita mengusir, memerintah setan keluar dari tubuh seseorang ataupun berbicara kepadanya, karena Tuhan Yesus sendiripun berbicara dengan setan-setan, sebelum mengusir mereka, waktu ia dicobai di padang gurun dan dalam kejadian di Gadara” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 33-35.
Jawaban balik dari saya:
a)   Orang mati justru lebih tahu dibandingkan dengan orang hidup.
Ini terlihat dari cerita tentang Lazarus dan orang kaya (Luk 16:19-31), dimana orang kaya yang sudah mati itu, tanpa diberitahu, sudah tahu akan banyak hal, seperti:
·        ia tahu bahwa ia tidak mungkin akan keluar dari neraka itu selama-lamanya, dan karena itu ia tidak meminta itu kepada Abraham.
·        ia tahu bahwa saudara-saudaranya yang masih hidup itu sangat membutuhkan Injil, dan kalau mereka tidak mendapatkannya dan tidak bertobat, maka mereka akan menyusulnya ke tempat penyiksaan / neraka tersebut.
·        ia tahu bahwa saudara-saudaranya yang masih hidup itu belum mengetahui apa yang ia, sebagai orang yang sudah mati, ketahui. Karena itu ia ingin memberitahu mereka. Ia tahu bahwa ia sendiri, sebagai orang yang mati dalam dosa, tidak mungkin bisa pergi kepada saudara-saudaranya untuk memberitakan Injil kepada mereka. Karena itu, ia meminta supaya Lazarus, yang adalah orang beriman, yang memberitakan Injil kepada saudara-saudaranya. Perhatikan bahwa arah petunjuk adalah dari orang mati kepada orang hidup. Andereas Samudera membalik arah petunjuk ini, sehingga menjadi dari orang hidup kepada orang mati.
Jadi, orang mati dalam Kitab Suci kelihatan pintar / tahu banyak. Karena itu:
¨       betul-betul mengherankan bahwa ‘orang mati’nya Andereas Samudera ternyata tidak tahu apa-apa, dan bahkan bisa dikatakan bodoh sekali. Misalnya kasus orang mati gantung diri, yang lalu masuk ke tubuh orang yang sedang bergantung-gantung pada alat orthopedi yang berfungsi untuk meninggikan tubuh, karena mengira bahwa tubuh yang sedang tergantung itu adalah tubuhnya (‘Dunia Orang Mati’, hal 85).
¨       maka merupakan suatu kegilaan kalau ada orang hidup memberi petunjuk kepada orang mati.
b)   Mengapa ada hukum yang melarang untuk meminta petunjuk kepada orang mati, tetapi tidak ada hukum yang melarang untuk memberi petunjuk kepada orang mati?
Mungkin, karena dari dulu ada banyak orang gila / sesat, yang senang meminta petunjuk dari orang mati. Tetapi tidak pernah ada orang segila / sesesat Andereas Samudera, sehingga mau memberi petunjuk kepada orang mati, dan karena itu Kitab Suci tidak pernah memberikan larangan kepada orang hidup untuk memberi petunjuk kepada orang mati.
Sebagai contoh yang serupa lihat Ul 25:11-12 - “Apabila dua orang berkelahi dan isteri yang seorang datang mendekat untuk menolong suaminya dari tangan orang yang memukulnya, dan perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap kemaluan orang itu, maka haruslah kaupotong tangan perempuan itu; janganlah engkau merasa sayang kepadanya”.
Apakah hukum ini menunjukkan bahwa kalau ada 2 orang perempuan berkelahi, dan lalu suami dari perempuan yang satu ingin menolong istrinya dengan memukul kemaluan lawan istrinya, ia tidak bersalah? Tentu saja ia bersalah. Tetapi mengapa hukum itu tidak mengatakan demikian? Karena tidak pernah terjadi peristiwa seperti itu. Sebaliknya, peristiwa seperti yang diceritakan dalam hukum itu mungkin sering terjadi, dan karena itu maka dikeluarkanlah hukum itu.
Ada penafsir yang menafsirkan ayat-ayat di atas bukan hanya sebagai larangan meminta petunjuk dari orang mati, tetapi sebagai larangan mengadakan kontak dengan orang mati.
Misalnya, Loraine Boettner yang menggunakan ayat-ayat tersebut untuk menyerang ajaran Roma Katolik yang berdoa / melakukan penyembahan kepada Maria ataupun orang-orang suci, karena itu merupakan kontak dengan orang mati.
Loraine Boettner: “Furthermore, not only do we have no single instance in the Bible of a living saint worshipping a departed saint, but all attempts on the part of the living to make any kind of contact with the dead are severely condemned (Deut. 18:9-12; Ex. 22:18; Lev. 20:6; Is. 8:19,20)” [= Selanjutnya, bukan hanya kita tidak mempunyai contoh satupun dalam Alkitab tentang orang kudus yang masih hidup yang menyembah orang kudus yang sudah mati, tetapi semua usaha dari orang hidup untuk membuat kontak jenis apapun dengan orang mati dikecam secara keras (Ul 18:9-12; Kel 22:18; Im 20:6; Yes 8:19,20)] - ‘Roman Catholicism’, hal 145.
Kalau ada orang yang menanyakan: lalu mengapa Yesus sendiri mengadakan kontak dengan Musa dan Elia di atas gunung (Mat 17:1-3)? Dan mengapa kita sendiri mengadakan kontak dengan Yesus, yang juga sudah mati? Maka saya kira jawabnya mudah, yaitu karena Yesus adalah Allah dan manusia, dan karena itu Ia berbeda dengan orang biasa. Disamping itu, sekalipun Ia mati, tetapi Ia lalu bangkit kembali dan hidup selama-lamanya!
c)   Tidak ada kemungkinan bagi orang hidup untuk memberi petunjuk kepada orang yang mati dalam dosa, karena di atas telah saya jelaskan bahwa orang yang mati dalam dosa, langsung masuk neraka, dan akan terus ada di neraka sampai selama-lamanya.
d)   Andereas Samudera tetap melakukan pelanggaran terhadap Ul 18:11 itu, karena ia bertanya kepada arwah.
Perlu saudara perhatikan bahwa Ul 18:11 itu bukan hanya melarang untuk meminta petunjuk kepada orang-orang mati, tetapi juga untuk bertanya kepada arwah. Dari kutipan kata-kata Andereas Samudera di atas, terlihat bahwa ia menyadari akan hal itu. Tetapi anehnya boleh dikatakan dalam setiap penginjilan terhadap orang mati, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada orang mati itu. Untuk melihat dengan lebih jelas, saya akan mengutip salah satu penginjilan yang ia lakukan terhadap orang mati.
Andereas Samudera: “Hendra pada suatu hari datang minta didoakan karena kepalanya sangat sakit, seperti mau pecah katanya. Ketika saya bertanya kepadanya:
‘Sejak kapan anda menderita sakit itu?’
‘Sudah dua minggu ini.’
‘Apa yang anda alami dua minggu yang lalu?’
Saya bermimpi ayah saya yang telah meninggal datang kepada saya.’
‘Ayah meninggal karena apa?’
‘Ia jatuh dari atas genteng.’
Segera setelah saya letakkan tangan atas kepalanya ia jatuh rebah dalam urapan dan mulai bermanifestasi. Ketika saya bertanya:
‘Kamu roh ayahnya bukan?’
‘I...i...i..ya’ sambil mengangguk.
‘Mengapa kamu masuk kesini?’
‘Saya kesepian sendiri. Saya datang untuk mengajak anak saya menemani saya!’
‘Anakmu sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya, ia sekarang telah menjadi anak Allah, bukan anakmu lagi. Kamu mati umur berapa? Dan bagaimana engkau mati?’
‘Tiga puluh delapan tahun, saya jatuh dari genteng ketika membetulkan genteng yang rusak dan kepala saya pecah.’” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 77-79.
Perhatikan semua bagian yang saya garis bawahi, yang jelas menunjukkan bahwa Andereas Samudera bertanya kepada ‘roh orang mati’ itu. Apapun motivasinya dalam bertanya, pokoknya ia bertanya, dan dengan demikian melanggar Ul 18:11!

9)  Mengapa ajaran ini baru keluar pada abad ke 21?

 
Kalau ajaran Andereas Samudera ini memang ada dalam Kitab Suci atau keluar dari Kitab Suci, mengapa ajaran ini baru keluar sekarang pada abad ke 21? Perlu diketahui bahwa ajaran tentang penginjilan yang dilakukan oleh Yesus dalam dunia orang mati memang banyak dianut orang-orang lain, tetapi ajaran bahwa roh orang mati bisa merasuk orang hidup, bisa kita injili, bisa bertobat dan diselamatkan, belum pernah saya jumpai dalam buku theologia atau buku tafsiran manapun! Mengapa selama 20 abad tidak ada orang yang pernah menemukan ajaran ini? Jelas karena ajaran ini memang tidak pernah diajarkan oleh ayat Kitab Suci manapun, kecuali kalau ayat-ayat tersebut dibengkokkan habis-habisan.

 -AMIN-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar